Pages

8 Sep 2008

Darinya Mengalir Kemuliaan

Bukan! Bukan Ramadannya saja. Bukan juga karena puasanya saja. Ramadan adalah imbas dari kemuliaannya. Karenanya Ramadhan menjadi bulan paling mulia. Adalah haadzal kitaab laa raiba fiih, hudal lil muttaqiin. Adalah al-Quran. Sebagai tempat diturunkannya, Makkah dan Madinah menjadi tanah suci (al-haraam). Sebagai nabi pembawa risalahnya, Rasulullah menyandang pemimpin dan kehormatan para nabi (imaam dan sayyidul anbiyaa` ). Begitu pun manusia, ia bisa tiba-tiba terhormat dan dimuliakan karena pengaruh al-Quran. Maka jangan bingung mencari kemuliaan carilah itu dengan, dalam dan bersama al-Quran. Bahkan Rasulullah sendiri menegaskan, “Ahli Qur`an adalah Ahli Allah dan hambaNya yang memiliki tempat khusus di sisiNya” (HR Ahmad)
Tapi berhati-hatilah, sebagaimana kitab suci ini bisa memuliakan, ia pun bisa menghinakan, sebagaimana ia mengangkat, pun ia bisa menjatuhkan.

Perbanyak tilawah untuk mempermudah aplikasi..
Karena kita terus diingatkan dan diingatkan (tadzkiir min ba’di tadzkiir). Pengaruh wirid harian sangat terasa ; baik dalam pemahaman, penghayatan dan pengamalan . Tapi pengaruhnya sangat tergantung dari motivasi, semangat dan cara pandang saat akan dan sedang tilawah. Hati-hati juga dengan nada sinis tanda ketidak berdayaan seperti selentingan, “Ah.. buat apa baca berjuz-juz tapi tidak difahami..!!.” Ungkapan ini nampak bijak dan dalam tapi rentan menyesatkan. Sebab sering dijadikan alasan orang-orang apologis atau orang-orang lemah yang sebenarnya belum terbiasa membaca al-Quran secara kontinyu dan teratur. Ungkapan boleh terucap bagi mereka yang memang biasa membaca al-Qur’an perhari dalam jumlah yang bombastis. Sederhana saja, seperti tawshiyah’amaliyyah Imam Syahid, “minimal satu juz perhari” tanpa menafikan tujuan tertinggi dari tilawah itu sendiri.

Beberapa Pengaruh al- Quran
Islam tidak menghendaki seorang daiyah muslimah hanya mengajak orang lain saja sementara dirinya terlupakan (Al Baqarah : 44 ). Dia harus mempersiapkan dirinya untuk memiliki jiwa dan kepribadian. Dengan demikian dia akan mampu memenuhi tuntutan dakwah dan menunaikan tugas dan kewajibannya dengan baik. Adapun diantara penyiapan diri itu adalah persiapan ruhiyah yang dihasilkan dari interaksi dengan Al Quran.
Al Quran merupakan mashdar hayât al-mu`min (sumber hidup dan kehidupan mukmin). Ia harus senantiasa dibaca, ditelaah, kemudian diamalkan. Dan yang terpenting al Quran adalah salah satu sumber kekuatan ruhiyah. Ia sangat berpengaruh dalam diri seorang daiyah. Adapun beberapa pengaruh tersebut antara lain sebagai berikut :
Pertama, sarana pembenahan ruhiyah. Dalam surat al Muzammil ayat 4 dijelaskan bahwa tilawah al Quran dilakukan secara tartîl. Surat ini juga menyebutkan bahwa tilawah adalah amalan kedua setelah qiyam lail. Tidak dipungkiri lagi pengaruh kedua amalan ini dalam menguatkan ruhiyah. Disamping pahala membacanya, al Quran merupkan ruh yang memberikan kekuatan maknawiyah. Siapa pun yang sunguh-sungguh membaca dan mentadabburinya akan merasakan pengaruhnya. Hati menjadi hidup. Setan akan hengkang bahkan ditundukan. Ridha Allah Swt. akan diraih . Manisnya iman bisa dirasakan, karena ada semacam kesejukan tersendiri saat bersamanya. Kesungguhan membaca, menelaah, dan mengamalkan al-Quran akan menciptakan wibawa, keelokan prilaku, juga menjadikan pelakunya cinta kepada Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiya menyatakan, “fungsi tilawah dan zikir bagi hati ibarat fungsi air bagi ikan”.
Kedua, sebagai penawar dan penentram hati (QS Al-Isra ayat 82, Yunus ayat 57 )
Tiada suatu hari dalam kehidupan Daiyah muslimah yang boleh dibiarkan berlalu tanpa tilawah Al Quran. Karena setiap sesuatu mempunyai noda, sedang yang menyebabkan hati ternoda adalah lalai dari dzikrullah dan memperturutkan hawa nafsu. Tilawah Al Quran merupakan sebaik-baiknya dzikir. Ia begitu efektif membersihkan noda-noda, bahkan menjadikan hati bekilau-bercahaya. Ia mampu menjadi obat dan penawar bagi penyakit-penyakit hati. Ia juga bisa berperan sebagai pelipur hati dikala duka, gundah dan kesulitan menghimpit. Setiap kali muslimah tilawah dan menambah frekuensi tilawahnya maka ia akan semakin bertambah rasa cinta dan rindunya untuk bertemu dengan Dzat yang diingatnya.
Ketiga, sumber hidayah dan ilmu pengetahuan. Ibnu Masud mengatakan, “Apabila kamu menginginkan pengetahuan maka selidikilah Al Quran itu, sebab didalamnya terkandung khazanah ilmu baik dari orang-orang terdahulu hingga mereka yang menyusul dikemudian hari.”
Kemuliaan yang diberikan kepada pembaca Al Quran sangat banyak baik di dunia ataupun di akhirat kelak. Amru bin Ash Ra. mengatakan, “barang siapa membaca Al Quran maka telah diletakkan tingkat kenabian disekitar kanan-kirinya, hanya saja dia tak didatangi wahyu.”
Generasi awal telah memberikan keteladanan dalam interaksi dengan Alquran. Hati mereka tertambat erat dengan Allah. Hal ini dikarenakan mereka merasakan betul getaran ilahiyah yang terpancar dari kalâmullâh. Tak heran jika ia meninggalkan pengaruh yang begitu mendalam.
Ibnu Abbas berkata, “Jika kamu membaca surat Albaqoroh dan Ali Imran dengan perlahan-lahan dan tertib serta dapat kesempatan untuk mengenangkan artinya, maka yang demikian itu adalah lebih baik dari pada membaca seluruh Alquran dengan cara tergesa-gesa dan tak karuan.”
Demikian selayaknya para daiyah muslimah dalam membenahi kepribadiannya dengan dan berdasarkan Al Quran. Sebagaimana dirinya telah diterangi cahaya Al Quran, maka dia pun akan mampu menerangi dunia dengan kepribadiannya itu
Imacik Diwan, Lc.

No comments: