22 Jul 2009

ma Kairo

sore-sore

nilenight

nilenight 2

moon light

Read More......

7 Jun 2009

setetes kebahagiaan, hilang, tunduk pada kesepian, diri ini melayang


pelan pelan aku menuliskan keindahan.
agar tak hilang dari keindahannya itu,
setetes kebahagiaan

tatkalah jatuh, hampa sudah
kantung kebijaksanaan
yang ada,
hilang

dalam sunyi yang luas,
bertekuk lutut aku
setengah menangis,
tunduk pada kesepian

salju tolong beri aku hujan
sampai ketika peluh datang,
diri ini telah melayang.

sumber gambar: http://abuthalhah.files.wordpress.com/2009/02/sendirian-di-laut.jpg

Read More......

2 Jun 2009

Ketakutan seorang pemimpin.


Pada zaman dahulu. Ada seorang Raja bernama Namrud. Dia begitu berkuasa, sampai-sampai mengaku bahwa dirinya adalah tuhan. Dengan kekuasannya dia bisa mengatur peredaran rezeki bagi orang-orang. Dengan kekuasaannya dia bisa memutuskan seseorang untuk tetap hidup atau malah mati. Semua rakyat tunduk padanya tak seorang pun yang berani dengannya. Tapi, di balik itu semua. Saat semua orang takut padanya, dirinya sendiri malah terus diburu oleh mimpi buruk tentang lahirnya seorang bayi yang kelak akan merenggut kekuasaannya. Bayi itu Ibrahim as.

Begitu pula dalam kisah Nabi Musa as. Para penguasa yang mempunyai kekuasaan, yang menganggap dirinya seolah-olah memegang takdir bagi orang lain. Justru cenderung lebih banyak merasakan ketakutan kepada hal-hal kecil. Mereka seolah-olah diburu dan dihantui oleh sesuatu yang biasa. Dirongrong oleh jatuhnya kekuasaaan dan hilangnya kedigdayaan.

Beberapa akhir ini, negeri seribu menara kedatangan seorang pemimpin dari negeri lain. Seorang pemimpin yang mengklaim bahwa negaranya adalah polisi dunia. Dalam rangka kunjungan kenegaraan dan pertemuan-pertemuan kenegaraan.
Kunjungan itu sendiri sebetulnya merupakan kunjungan diplomatis biasa, layaknya kunjungan Presiden kita Bapak Susilo Bambang Yudhoyono ke Korea Selatan akhir-akhir ini. Tapi, ada beberapa hal yang luar biasa kali ini.

Bertepatan dengan waktu kunjungan tersebut, telah tercatat beberapa mahasiswa asing khususnya yang berasal dari Timur dan Tenggara Asia telah ditangkap. Padahal mereka selama ini telah terdaftar resmi sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar dan telah melengkapi kewajiban-kewajiban fiskal dan visa. Apa salah mereka? Pemimpin negara lain datang ke sini, ko malah mereka yang ditangkap?

Pihak keamanan dalam negeri ini sendiri berdalih bahwa tindakan penangkapan itu bukan lain merupakan tindakan jaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal yang tidak diinginkan bagaimana? Kami datang ke sini untuk belajar, apalagi sekarang adalah musim ujian termin kedua. Apakah karena klaim teroris bagi kami yang belajar kitab Suci Al-Quran, bagi kami yang berjenggot, bagi kami yang ke mesjid?

Dari fenomena Namrud dan Fir'aun hingga ke pemimpin negara Sam ini. Telah dibuktikan bahwa, ternyata kekuasaan dan pemerintahan tak menjamin seseorang bisa tenang. Ia selalu diburu-buru dan ditakut-takuti oleh hal-hal yang kecil. Bisa jadi, sesuatu yang kecil tersebut justru menjadi sangat berbahaya bagi pemimpin-pemimpin besar yang dzalim. Bebaskanlah saudara-saudara kami ! Bebaskanlah teman-teman kami Azhariy !

Ya Allah, berikanlah kami pemimpin-pemimpin yang baik dan perbaikilah pemimpin-pemimpin kami. Berikanlah kami rakyat-rakyat yang baik dan perbaikilah rakyat-rakyat kami. Amien.


Read More......

31 May 2009

Menjadi Indonesia.



Mungkin judul ini pernah digunakan oleh sebuah grup band asal Jakarta yang akhir-akhir ini sering mengisi sebuah rubrik di sebuah media tulis ternama di Indonesia. Grup band yang juga saya gemari dan saya banggakan, sebagai salah satu grup band yang masih gigih mengusung idealisme mereka di tengah derasnya desakan pasar.

Efek rumah kaca, mungkin ada beberapa teman yang sudah tidak asing dengan nama ini. Atau ada pula yang masih belum pernah mengenal band yang digawangi oleh Cholil, Akbar dan Adrian ini.

Saya tak berniat berpanjang lebar di profil grup band ini, bagi teman-teman yang masih penasaran silakan kunjungi mereka dengan sebelumnya melakukan pencarian di Google.

Menilik kepada judul yang juga saya gunakan dalam tulisan ini. Menjadi Indonesia. Pasti secara nalar, dengan pernyataan ini berarti kita belum benar-benar menjadi Indonesia. Lalu, bagaimanakah Indonesia itu? Apa yang harus kita lakukan agar menjadi Indonesia? Lantas, bagaimana keadaan Indonesia sekarang yang dikatakan belum menjadi dirinya secara utuh?

Karena saya tidak mempunyai referensi yang matang, hanya karena dorongan untuk menulis. Saya hanya berpatokan pada apa yang dulu pernah saya dengar dan saya hafalkan. Mari, perlahan-lahan ikuti jalan fikiran saya.

Bagaimanakah Indonesia Idaman itu? Dan Apa yang harus kita lakukan agar menjadi Indonesia?

Indonesia idaman, adalah Indonesia yang berlandaskan kepada kelima sila yang sudah dirumuskan saat-saat kemerdekaan. Pertama, seperti kita ketahui adalah Ketuhanan yang maha Esa. Dengan butir sila yang ditempatkan sebagai sila paling awal dari sila-sila yang lain, kita bisa membaca bahwa Negara kita Indonesia harus berdasarkan pada sebuah asas ketuhanan yang maha Esa. Dalam artian, bahwa apapun paham yang menafikan wujud ketuhanan yang maha Esa tidak bisa diterima dalam konteks Indonesia Idaman. Gugurlah faham komunisme, dan politeisme (kalau saya tidak salah istilah).

Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Secara simpel dan sederhananya, negara Indonesia Idaman harus berdasarkan asas kemanusiaan yang menempatkan keadilan dan keberadaban. Maka gugurlah paham-paham ketidak adilan dan ketidak beradaban. Dari sini, kita bisa melihat bahwa untuk menjadi Indonesia Idaman kita harus bisa menyingkirkan ketidak adilan dan ketidak beradaban. Adil dalam pengertian yang pernah saya dengar, sebuah kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada tempat dan haknya. Maka jika dikontekskan dalam ruang lingkup kemanusiaan, adil bisa berupa memberikan hak yang pantas dari sebuah kewajiban manusia. Karena manusia tidak bisa lepas dari kewajiban dan hak. Ada kewajiban, ada hak. Begitu pula sebaliknya.
Berpaling kepada istilah beradab, bahwa sebagai seorang manusia kita harus mempunyai adab. Tidak anarkis. Maka, agar menjadi Indonesia idaman, kita harus mengedepankan keadilan yang beradab.

Ketiga, Persatuan Indonesia. Kita bisa menerima butir sila ini tanpa harus memperpanjang pembahasan. Intinya, Indonesia Idaman adalah Indonesia yang bersatu. Bersatu dalam apa?

Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Nah, agar bisa menjadi Indonesia idaman. Kita harus bersatu dalam sebuah ruang lingkup kerakyatan yang di sana ada seorang pemimpin ideal mengusung hikmat kebijaksanaan. Darimana didapat kebijaksanaan ini? Yaitu, dari sebuah permusyawaratan yang diberikan dari perwakilan-perwakilan anggota bangsa yang mengusung tema Ketuhanan, Kemanusiaan yang adil dan beradab serta bersatu dalam ruang lingkup kerakyatan yang taat pada pemimpin. Dari sini, kita bisa rasakan betapa harmonisnya hubungan mesra antara pimpinan dengan rakyat.

Dan yang terakhir, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Butir sila ini merupakan sebuah hasil dari kombinasi empat butir sebelumnya. Apabila kita sudah berketuhanan yang maha esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, bersatu dalam ruang lingkup Indonesia yang dipimpin oleh pemimpin kerakyatan yang berdasar pada hikmat kebijaksanaan dari sebuah permusyawaratan perwakilan maka terciptalah sebuah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tak susah bukan untuk menjadi Indonesia Idaman? Tak perlu mengusung-usung idealisme yang 'mungkin' akan sulit diterima oleh bagian lain. Karena bangsa kita adalah bangsa yang bermusyawarah dalam perwakilannya masing-masing.
Yang perlu diperbaiki adalah pemimpinnya dan rakyatnya. Ya Allah berikanlah kami pemimpin yang baik dan perbaikilah pemimpin-pemimpin kami, berikanlah kami rakyat yang baik dan perbaikilah rakyat-rakyat kami. Amien.

Lantas, bagaimana keadaan Indonesia sekarang?

Berikut saya kutip beberapa syair dari lagu Menjadi Indonesia. Dan silakan masing-masing dari kita introspeksi diri. Insya Allah, kita bisa benar-benar menjadi Indonesia.


ada yang memar, kagum banggaku
malu membelenggu
ada yang mekar, serupa benalu
tak mau temanimu

lekas,
bangun tidur berkepanjangan
menyatakan mimpimu
cuci muka biar terlihat segar
merapikan wajahmu
masih ada cara menjadi besar

ada yang runtuh, tamah ramahmu
beda teraniaya
ada yang tumbuh, iri dengkimu
cinta pergi kemana?

memudakan tuamu
menjelma dan menjadi indonesia

Read More......

29 May 2009

Pintu Malam.


Ketukan pintu malam selalu menggangguku. Aku berusaha acuh.
Seringkali kuberteriak dan bertanya,
"Siapa di luar sana?", jawabnya hanya. "Di luar siapa?"

Ada ketukan kencang dan nyaring,
di dalam rongga dadaku.
"Ini siapa, tengah malam mengetuk-ketuk pintu?
Mengganggu saja."
"Ini aku, sayang. Apa kabar?"
"Sayang! Kamu di mana sekarang?"
"Di belakang."
"Di belakang pintu?"
"Di belakang rindu."

Ah, malam ini aku akan tidur nyenyak.
Malam ini, rinduku akan nyenyak tidurnya.

*hasil plagiat dari puisi Om Joko Pinurbo
yang berjudul Telepon Tengah Malam.
(maaf, Om.. gabilang-bilang)

Gambar diambil dari http://farm4.static.flickr.com/3527/3312877078_4c408b4147.jpg

Read More......

21 May 2009

malam


MALAM

/1/

saat kau tak bisa pejamkan matamu,
kubertanya,

"Tak bosankah kamu, terus membaca malam.
Sementara yang lainnya ikut terbenam?"

kau menjawab,

"Aku lebih senang menatap bulan daripada matahari,
kudapatkan kedamaian. Kudapatkan kehidupan.
Kubaca balon-balon mimpi."

dan aku serta dinginmu
kembali larut dalam diam.
sunyi yang luas.

/2/
entahlah,
kau selalu bangkit dalam kegelapan.
beranjak perlahan
menuju beranda malam.
dan kembali saat fajar menguap.

dan aku,
selalu setia menemanimu.
memecah bisu dengan jenak pertanyaanku
pertanyaan yang tak seharusnya kutanyakan
karena kutahu jawabannya.

/3/
tatkala kau ditanya tentang malam,
kau menjawab.

"Dia yang selalu temaniku dalam kegelapan
dalam rembulan
dalam jenak, gontai rerantingan.
Dalam pelan, dengkuran
dalam nafas yang tertahan.
dalam mimpi, tentang pangeran putih yang menjemputmu.
dalam khayal, akan sebuah perubahan
dalam hangat airmata perpisahan.
dalam rindu yang terpendam.
dalam hujan, serta ia yang hadir
meredam kepekatan"

gambar dari : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/cd/VanGogh-starry_night.jpg/751px-VanGogh-starry_night.jpg

Read More......