Pages

11 Sep 2008

Nge-Syai... (Nge-Teh)

Panas malam itu terasa menguap. Lelah bercampur ngantuk bergeliat di seluruh urat saraf yang ada di badanku. Lampu-lampu merah jalan redup-redam menyinari jalan yang padat. Pinggiran jalan berjejer warung-warung menyediakan penganan ber-sahur. Wajar saja, sekarang sudah pukul 01.24 pagi waktu Kairo. Dan aku masih termangu berdiri dalam bis yang pengap itu. Setelah berkunjung ke kediaman orang nomor satu Nahdlatul Ulama Kairo, Ust. Mukhlason Jalaluddin, Lc. Bis yang tadi kutumpangi dari kawasan Rabea Adawea angkuh menembus desakan kendaraan-kendaraan lain.

Sisiran pandanganku menangkap sesuatu yang biasa. Tapi unik. Deru bis yang kutumpangi mengiringi khayalku kemana-mana. Ya, di sana. Di sana segerombolan lelaki setengah baya hingga dewasa duduk bersama. Seakan tidak ada masalah di otak mereka, bersenda canda dan gurauan hingga pembicaraan serius dzu kritik pun dibahas. Di depan mereka meja kecil bundar berdiri. Diatasnya tersedu teh manis, dedaunan mints, dan sekotak rokok. Di samping meja itu pula ada shisha beraroma buah menyeruak turut menyegarkan suasana. Bisa dibilang, inilah kenikmatan pertama sebelum surga. Hehehe...

Segelas teh itu menemani malam mereka, melupakan segalanya.. Larut dalam fenomena aktifitas manis dan kecutnya rasa.
Teguk pertama...
Manis, hangat.. serasa indah... Bagaikan pertama kalinya kita mengenal cinta dan kasih sayang...
Apalagi sembari diselingi hirupan shisha yang kali ini diibaratkan romansa-romansa cinta yang ada saat asmara mengepakkan sayapnya.

Teguk kedua...
Mulai kecut, dan kehangatan yang tadi ada terasa berkurang. Begitulah cinta, saat kehangatan yang sebelumnya mendominasi bersama manisnya asmara berkurang. Kecut mulai tumbuh bersama parasit-parasit egoisme. Sekarang tinggal sabar dan ikhlas obatnya.

Teguk terakhir...
Pahit, dingin... Itulah cinta, saat kita terlalu larut dalam percintaan. Hingga lupa apa dan kepada siapa kita mencinta. Indikasi dari hal ini bisa berupa antipatinya seseorang pada cinta, atau bahkan dendam membara kepada cinta. Lho, cinta ko disalahkan ???

Yaaa begitulah manusia, selalu mencari kambing hitam. Bagaikan menghirup teh, tak pernah ada yang mau meminumnya hingga ampas terakhir. Selalu mencari kenikmatan. Kalau tak mau meminum ampasnya, jangan lupa menyaring tehnya.
Nah, menyaring teh disini adalah selalu memperbaiki niat dalam mensyukuri nikmat bercinta.
Cinta itu dari Allah, dan kita bertugas menyebarkan cinta-Nya di muka bumi ini kepada makhluk lainnya. Dan apabila kita bisa membuat orang lain mencintai-Nya, itu merupakan sebuah pekerjaan yang mulia. Maka nikmat Tuhan yang mana yang engkau dustakan ?

Aaah.. khayalku sudah terlalu jauh. Melayang hingga melampaui bulan. Dan aku lupa bahwa aku ada pada pusat poros berputarnya bulan.

Saat baru lahir aku ingin berlari, orang-orang memaksaku untuk merangkak, dan aku patuh.(Filantropi)

No comments: