Pages

9 Oct 2008

Lelaki Hujan

Hujan rintik-rintik sore ini. Berawal dari sebuah kegelapan yang diciptakan gerumulan awan hitam. Sejak pagi, hari ini tak ada yang cerah. Semuanya bernuansa gelap. Nuansa yang dulunya kusukai, hilangnya massa, hitam dan kelam. Tapi sejak hari ini, ada sebuah ketakutan bersarang dalam dadaku. Sebuah ketakutan akan akhir sebuah hidup. Berakhirnya sebuah takdir.

Tak ada senyuman menyambut hariku, kamis. Hari kamis. Terdengar begitu megah, anggun mengikuti setelahnya Jumat. Hari libur bagi sebagian orang yang mempercayainya sebagai hari raya. Hari wheraspati yang identik dengan Yupiter. Sebuah obyek langit tercerah setelah matahari, bulan dan venus. Walau terkadang, aku sendiri menganggap Yupiter penuh dengan misteri. Seorang dewa.

Kamis kali ini, daun-daun ikut menyambutku dengan membiarkan diri mereka terbang lalu jatuh ke bumi. Menyatukan raga bersama alam. Untuk kembali setelah tinggi bertengger bergantung pada dahan kokoh sebuah pohon. Daun-daun kering yang jatuh berputar menari bersama angin yang meniup mereka entah kemana. Utara. Arah angin yang pertama kali kukenal. Sebuah lambang dimana semua orang bertumpu pada utara untuk mengetahui setelahnya arah-arah angin lainnya.

Rintik hujan jatuh membuat sebuah simfoni indah, tapi menyayat. Bersama daun-daun coklat menghiasi frame sore ini. Sore kamis. Sore Yupiter. Aku menunggu progress keras dari nuansa sore ini. Tapi, entah aku terhenyak. Aku terpaksa beranjak. Menuju sebuah arah yang aku sendiri tak mengerti mengapa dia kutuju. Ada sebuah magnet yang menarikku. Sebuah tarikkan kuat. Memaksaku melupakan diri sejenak. Memaksaku melupakan jasad yang berdiri ini adalah diriku sendiri.

Aku berjalan gontai, menuju sebuah arah. Arah yang bukan utara, juga bukan barat. Lurus. Tak terhenti. Sebuah tarikan kuat. Sebuah rindu. Rinduku pada seseorang yang tak mungkin merindukanku. Aku pernah mendengar bahwa rindu adalah buah dari sebuah rasa memiliki. Tapi, sesungguhnya ia takkan pernah kumiliki.

Aku berhenti pada sebuah tumpuan lunglai kaki tua berumur seperempat abad. Kaki yang akan beranjak mengikuti hembusan angin. Pelan ataupun sepoi-sepoi. Dihadapanku berdiri angkuh sebuah pagar tinggi besar. Ranum kehijauan cat yang hampir saja luntur oleh pergelutan bersama hujan dan terik mentari. Dibelakang pagar itu, sebuah rumah putih besar berarsitektur kuno Prancis. Yang ketika saat kutiba, seperti berdehem angker. Memaksa orang yang kotor dan kecil sepertiku untuk pergi.
Dan lagi-lagi, tarikan magnetis itu muncul kembali. Dibawah hujan ini, aku menatap tajam ke arah jendela yang setengah terbuka. Berhias gorden abu-abu terlipat rapi. Dalam ketidak beranjakanku, aku menatap mencari. Inilah yang kutunggu.

Dan aku sendiri, tak tahu apa yang kutunggu. Aku menanti.


Sekelebat cahaya putih, di sana. Sebuah cahaya mata. Cahaya hati. Cahaya yang kurindukan. Sesosok cahaya. Atau entahlah apa kumemanggilnya. Dialah rinduku. Rindu yang kutahan dan kupendam dalam-dalam dipeti rahasia hatiku. Seorang sosok berhias rambut indah dan wajah putih kemerahan. Ranum. Andai saja ia sebatang ficus benjamina moraceae, seangker apapun akan kurengkuh ia. Karena ia suci, dan karena ia tercipta untuk melindungi.
Aku menatapnya tajam. Berusaha menarik perhatiannya. Kupertajam tatapan. Dan darahku berdesir. Wajah oval indah putih berhias bibir merah keranuman. Mata bulat bening, sebening mata air. Dan rambut itu. Rambut indah dalam balutan hitam mutiara. Dan sekali lagi, aku berdesir kagum. Tuhan, kau ciptakan makhluk yang kucinta. Dan aku mencintai-Mu. Walau ia tidak.

Aku menatap, menanti balasan tatapannya. Aku berharap, seandainya saja kutuliskan harapanku padanya diatas dedaunan. Maka bumi tak ada yang memayungi lagi, selain gedung-gedung angkuh itu. Aku sungguh mencintaimu.

Dan, hatiku terkesiap. Dia menatapku. Tatapan bening berair. Seakan berkata.
"Mengapa kau berdiri disana ?"

"Aku berdiri bersama hujan untuk menjemputmu. Agar langit menyaksikan bahwa aku takkan sendiri. Aku takkan tergenang di sini"

Tatapannya tajam, beraut.
"Tahukah engkau bahwa awan telah menjemputku dengan naungan ? Hingga aku berteduh di rumah ini. Bersama gemuruh yang memperingatkanku untuk pergi dari hujan ? "

"Aku tahu, dan aku akan membawamu kepada embun dan pelangi untuk menghiburmu bersama cahaya"

Tapi, seketika tatapannya berubah.
Telunjuknya berdiri anggun. Mengarah pada utara. Ya, pada utara. Seakan berkata.
"Pergi, beradulah pada hujan. Beradulah pada tiap tetesannya yang jatuh kebumi. Beradulah pada kelam air mata alam ! Dan jangan lagi hampiri aku disini"

"Pergi, niscaya hujan ini takkan reda. Dan kau akan menangis bersama genanganmu. Lalu mengalirlah kelaut dan jangan kembali lagi di hadapanku".

Skreeeeeeeeeeeeeeekkk…! Jendela itu tertutup. Dan, hening bersama harmoni hujan.

Aku tercengang bersama jenak. Tapi tak berair mata. Hanya rengkuhan remuk yang kurasakan bersama hati. Entah mengapa, sekelilingku gelap dan sekejap berubah.
Aku telah berdiri di ujung lereng. Bersama basah, dan kehijauan hutan. Mereka turut berduka dan menunduk. Seakan turut merasakan perih dalam jiwaku. Hatiku menangis tanpa air mata jatuh kepipiku. Karena hujan. Hujanlah tangisanku. Dan hujan ini kian deras. Menghunjamku dalam tiap tetesnya ke bumi dan jasadku.
Angin kencang, guruh bergetar dan rintik yang ribut. Tak ada lagi dedaunan. Karena mereka bersembunyi. Takut akan kegelapan. Takut akan keputusasaan. Dan aku di sini masih berdiri.

Di depanku. Berdiri sebuah tugu putih besar tinggi. Dan aku ingin mengadu padanya akan kekejaman rasa yang mereka sebut cinta dan rindu.
Semilir, angin berbisik menyuarakan isi hatiku. Karena hujan.
Dan hujan merupakan satu bentuk presipitasi turunan cairan dari angkasa yang datang bersama guruh dan kabut. Hujan lahir hasil perkawinan titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Orang-orang percaya tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi, sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering, dan begitu pulalah perasaanku kali ini. Menguap dan tidak sampai jatuh pada tempatnya.

Angin berbisik kencang. Teriakan kenyataan pada hatiku yang bisu. Lewat sebuah lagu.

***
Aku jatuh cinta padamu
Sejak pertama kita bertemu
Diam menghuni relung hati
Kau tak pernah perduli

Tuhan mengapa kau anugerahkan
Cinta yang tak mungkin tuk bersatu
Kau yang telah lama kucintai
Ada yang memiliki

Cinta sejati
Tak akan pernah mati
Selalu menghiasi ketulusan cinta ini

Jalan hidup telah membuat kita
Harus senantiasa bersama
Lewati Segala suka duka
Tiada cinta bicara

Cinta sejati
Selalu menghiasi ketulusan cinta ini
Dan kau
Selalu hanya diam membisu
Meskipun engkau tahu
Betapa dalam cintaku

Aku jatuh cinta padamu
***
Aku masih tergenang di sini. Menunggu pelangi, dan cahaya mentari. Mungkin nanti, biarlah aku menguap dengan panasnya waktu. Hingga aku tak lagi di sini.

3 comments:

Panah Hujan, inc. said...

perfect .

i like it .

~~

kita kolab :P

tyara said...

wuih,,,
wuiiiiiiiihhhh...
.
.
kereeeeeeen...
.
bikin lagi dong..
ckckckck...

Yulian Ma'mun said...

umpat lalu...