Pages

13 Oct 2008

Gadis Putih


"Aku ingin melukis dunia dengan warna. Tapi yang kutemukan hanya putih. Pucat dan ketakutan. Tak ada goresan karena tak ada keberanian. Seperti keberanianku untuk merasa memilikimu"

Kamis ini, semilir angin beserta tarian dedaunan menghiasi hariku. Tergolek di luar sana, jasminum sambac hampir layu mengharap hujan. Awan berderek bergerombol tiba. Dari putih seketika menghitam.

Hitam. Sebuah representasi ketidakhadiran cahaya. Seperti hari-hariku yang berlalu sejak aku berani mengenal rindu. Mencicipi rasa. Entah itu rasa apa. Aku terlalu malu. Aku terlalu menjauh. Mengharap dan mengulur. Tapi tak mengurai. Aku tetap beku.
Beku berselimut kegelapan. Pada mata, juga pada hati. Aku tertutup. Tak berani merasa.

Sejak aku mengenalnya. Seperti saat ini. Saat menjelang hujan. Dia tiba. Dan pergi tergenang. Walau sebentar aku menari dibawah lantunan hujan bersamanya. Aku terdiam dan malu. Disaat lain, hatiku menyanyi riang banggakan kehadiranku di dunia. Karena aku bisa merasa, merasakan hal itu. Entah apa aku menyebutnya. Tapi, aku bahagia. Karena mata itu, mata yang tajam dan indah. Tatapan yang sedikit demi sedikit mengurai keberanianku menatap, sebagaimana aku menatap pelangi setelah hujan.

Hari ini. Sebuah pengharapan berpadu rindu. Sangat dekat. Ibarat rindu mengepal di jari manisku dan pengharapan di kelingkingku. Terjebak jarak dan waktu. Entah. Aku hanya bisa menunggu. Menunggu dengan resah. Keraguan, karena aku wanita. Karena aku tak bisa memulai untuk mengungkap. Dan aku malu pada awan.

Dia yang tak pernah lepas dari pikiranku. Menggerayang semua imajinasi indah. Semua keindahan yang belum berani untuk ku ungkap. Sesosok lelaki, di bawah hujan berdiri tegap. Pancarkan energi suci untuk bisa merindunya. Kekuatan besar yang datang saat ku tidur. Saat ku lelah. Saat ku sedih. Membuatku tersenyum. Lelaki tampan di mataku. Yang selalu hadir dari utara. Bersama arak-arakan awan hitam dan hembusan angin. Berjalan dalam tuntunan hujan. Bertahtakan serat-serat halus ikal rambutnya. Tegap tapi tak angkuh. Dan aku kembali menuliskan bahwa ini rindu.

Aku tak sempat berpikir mengapa aku bisa merindunya. Aku tak sempat berpikir, mengapa aku merasakan hal ini secepat ini. Mengapa simpati ini tiba saat aku dahaga.
Sejak pertemuan singkat. Aku menjemputnya dari sebuah lingkaran yang menjebaknya. Sebuah bayangan gelap. Beruang dan tak bertepi tanpa ujung batas. Sebuah ironi akan kehidupan. Membuatku paham, bahwa kehidupan tak hanya bisa terlihat indah dalam teropong keindahan.

Lelaki itu, kumerindunya. Rindu saatnya bertutur, bahwa hidup adalah sebuah perjuangan. Yang akhirnya ia sendiri, gugur. Jatuh, mati dalam sebuah kehidupan.

Ruang kamar ini. Senyap. Kutatap tabung aquarium bulat. Makhluk kecil indah bersisik dan bermata besar meliuk. Terbang dalam air. Bertanya padaku. Pada mataku yang tak bisa berbohong. Bahwa aku dalam kesedihan dan siksa.
"Adakah seseorang yang kau harap hadirnya ?"
"Iya, seseorang yang menggelayut dalam hatiku. Untuk selanjutnya mengakar dan melumpuhkan ide serta nalarku. Seseorang yang sangat kurindu"

"Tataplah hujan, bersama tetesannya. Kau akan menemukannya"

Aku beranjak,
"Benarkah ?"

"Ia di sana. Di gerbang tempat ia mengemis sebuah harapan. Tempat ia mengais sebuah asa. Gerbang terbuka. Yang kau akan membukanya bersama cinta"

Ia ada. Ia hadir. Dan aku bergembira !!!

Oh, tidak. Ia bersinar dalam kegelapan. Ia terang dalam pekat. Sebuah cahaya di bawah guyuran hujan. Sebuah penantian yang kini tiba.
Tatapannya. Tatapan mesra. Tatapan tajam bersimpati. Di balik pagar rumah putih ini. Di balik sebuah ironi akan kasih yang tak sampai. Kasih yang terpagar.

Aku balas menatapnya. Dengan binar. Binar yang kujemput dengan air mata. Sebuah kebahagiaan.

Aku berseru padanya dari dalam hati.
"Duhai yang kurindu, tak kusesali rindu berbuah ini. Biarkan buahnya ranum. Dan daun rindangnya berguguran. Aku bahagia."

"Aku mengerti keinginanmu. Tunggu aku di sana. Di pucuk harapan."
Telunjukku melentik tajam pada sebuah tujuan. Sebuah kebahagiaan.

Tapi, ia menghilang. Ia lenyap bersama segukan. Ia raib membawa harapan.
Tak alang aku kehilangan pijakan. Ku berlari. Aku berlari mengejarnya.
Aku menyesal, mengapa perasaan ini tidak kuungkapkan. Apa karena kau lelaki dan aku wanita. Kau memberi dan aku penerima.
Aku merutuk. Mengapa aku lebih menikmati diriku dalam jeratan norma. Norma tabiat wanita yang cenderung menunggu. Menunggu ungkapan perasaan. Penuh resiko dan dilema.

Dalam jenak aku berfikir. Apa hanya aku yang merasakan perasaan ini ?
Mengapa aku selalu dibatasi dinding waktu untuk bertemu dengannya. Tidakkah ia merasa seperti yang aku rasa ?

Aku menyusulnya. Entah kemana. Aku hanyutkan diriku bersama harapan. Bersama payung. Aku takkan menggunakan payung ini tanpanya. Karena payung ini hanya untukku dan untuknya.

Yakin berbisik dalam hati. Bersama payung yang terbuka ini. Terbuka dan berbisik isi hati. Isi yang belum terperas. Perasaan yang tersembunyi bukanlah tak tersampaikan, tapi ia mengendap. Untuk selanjutnya berbuah atau bahkan membusuk.

I don't know you
But I want you
All the more for that
Words fall through me
And always fool me
And I can't react
And games that never amount
To more than they're meant
Will play themselves out

Falling slowly, eyes that know me
And I can't go back
Moods that take me and erase me
And I'm painted black
You have suffered enough
And warred with yourself
It's time that you won

Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice you had a choice
You've made it now
Falling slowly sing your melody
I'll sing along


Dalam tirai hujan. Aku mencari, memilah jalan yang mana yang akan aku tuju. Bersama air mata bercampur hujan. Air mata penyesalan. Sebuah ungkapan yang tertahan. Tercekat bersama nafas yang pelan. Hingga tiba di lereng hijau. Tertancap tugu putih, lambang dari sebuah cinta. Tegap, tinggi, putih bersih karena selalu tersapu hujan.

Ia tertegun disana. Aku menemukannya. Dan payung ini masih terbuka.
Biarlah hujan jatuh. Dan aku bertumpu pada kenyataan yang meragukan.

*Mimiii... Tyrr... kasih masukan doonk.. saya ga da feel niih..

2 comments:

Panah Hujan, inc. said...

^^~

ntar yah saya kasi kripik (kritik) pedas ~~ via message di fs.

hahaha~~

selebihnya bagus :P

Dimas Rafky said...

Cukup bisa membuatku mau untuk membacanya hingga selesai.