Pages

27 Jun 2008

Menunda Menikah Demi Menuntut Ilmu

eramuslim – Pernikahan yang diserukan oleh Islam merupakan fitrah dan sunah para Nabi dan Rasul (manusia pilihan yang sempurna). Meneladani mereka merupakan hal yang sangat dituntut. Pernikahan yang barakah Insya Allah banyak melahirkan timbulnya sunnah hasanah (kebiasaan baru yang baik). Bahkan Rasulullah pernah menjanjikan kebaikan dengan berkata "Kawinilah orang-orang yang masih sendirian diantara kamu, sehingga Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluangkan rezeki mereka dan menambah keluhuran mereka."
Dalam hadist dengan derajat shahih Rasulullah SAW bersabda "Tiga golongan orang yang pasti mendapat pertolongan Allah, yaitu mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah dengan maksud memelihara kehormatannya dan yang berjihad di jalan Allah." (HR Turmudzi, An Nasa'i, Al Hakim dan Daruquthni). Bahkan Rasulullah pernah memberi peringatan bagi orang-orang yang urung menikah dengan berkata "Bukan termasuk golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak menikah." (HR Thabrani).

Demikian tingginya kedudukan pernikahan dalam Islam sehingga menikah merupakan jalan menyempurnakan separuh agama. Rasulullah SAW bersabda: "Apabila seorang hamba telah berkeluarga berarti ia telah menyempurnakan separuh agamanya . Maka takutlah kepada Allah terhadap separuh yang lainnya." (HR Ath-Thabrani).

Bagaimana jika timbulnya keinginan menunda pernikahan karena suatu sebab yang lainnya, misalnya menuntut ilmu (Agama Islam)? Baiklah, sebelum kita dapati jawaban atas pertanyaan diatas, kita lihat dalam beberapa ayat Alquran berikut tentang keutamaan menuntut ilmu.
"Allah mengangkat orang-orang yang beriman dari kalian dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian lakukan." (QS 58:11)
"Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. 39:9)
"Kami tiada mengutus Rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad) melainkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui." (QS. 21:7)

Bahkan seruan menuntut ilmu dikatakan oleh Rasulullah pada hadist shahih berikut, Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu (agama) maka akan Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat senantiasa meletakkan sayapnya bagi orang-orang yang menuntu ilmu (thalibul ilmi). Para penghuni langit dan bumi sampai ikan-ikan di dalam air pun akan memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang alim dibandingkan 'abid (ahli ibadah) bagaikan keutamaan bulan purnama atas semua bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris nabi. Dan para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham tapi hanyalah mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan itu berarti dia telah mendapatkan keuntungan besar." (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Dalam ayat berikut ini didapati adanya beberapa amalan besar yang boleh ditunda pelaksanaannya demi menuntut ilmu agama. Allah SWT bersabda: "Tidak sepantasnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberikan peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. 9:122).

Ada sebuah riwayat dari Imam Ibnul Jauzi rahimullah menyatakan: "Dan sungguh salafus shalih lebih mengutamakan ilmu atas segala sesuatu. Maka antara lain diriwayatkan bahwa Imam Ahmad tidak menikah kecuali setelah berusia lebih dari 40 tahun."

Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Abu Bakar bin Al Anbari diberikan hadiah seorang budak wanita, maka ketika beliau masuk menemui budak tersebut untuk berjima' dengannya, beliau berfikir untuk memecahkan suatu masalah ilmiah dalam bidang agama. Budak itu kemudian menyendiri dari beliau. Dan beliau berkata: "Keluarkanlah budak ini dan bawalah pada pedagang budak". Mendengar ucapan beliau budak wanita tersebut bertanya: "Apakah aku mempunyai kesalahan?" Beliau menjawab:"Tidak, tetapi hatiku disibukkan denganmu, apapula nilaimu sehingga bisa menghalangi aku dari ilmuku".

Dalam kitab Jami'ul Bayanil Ilmi wa Fadhlihi oleh Ibnu Abdil Barrahimahullah menjelaskan bahwa ada dua hukum dalam menuntut ilmu, yaitu: Fardhu 'ain yaitu yang harus kita fahami segala kewajiban dalam agama dan cara pengamalannya. Contohnya: perkara tauhid, sholat lima waktu, dan larangan berzina, mabuk dan lain-lain. Fardhu kifayah yaitu bila kita menuntut ilmu agama tentang dalil-dalil keterangan agama dan penelitian tentang riwayat-riwayat dalil tersebut.

Kewajiban menuntut ilmu yang diserukan oleh Rasulullah SAW tidak memandang umur dan jenis kelamin. Rasulullah bersabda: "Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim". (HR Ahmad, Ahsan).

Berdasarkan realita yang ada, banyak terjadi dikalangan muda-mudi Islam yang menemui hambatan dalam menuntu ilmu setelah menikah. Yang laki-laki disebabkan karena direpoti oleh kesibukan dalam mencari nafkah bagi keluarga dan yang perempuan disibukkan oleh tugas-tugasnya sebagi istri dan mengurus anak.

Jika demikian menunda menikah demi menuntut ilmu adalah mulia atau paling tidak menuntut ilmu agama untuk bekal kehidupan berumah tangga dan dalam mendidik anak. Tapi hal tersebut tidak dianjurkan bagi mereka yang memastikan bahwa dirinya tidak akan menemui masalah dan terganggu dalam menuntut ilmu apabila dirinya telah menikah.
Bahkan bagi dirinya sangat dianjurkan untuk segera menikah demi menghindari kemaksiatan.
Nah sekarang, pertanyaan diatas telah terjawab, bahwa tidak mengapa jika seseorang mengambil keputusan untuk menunda menikah karena alasan yang jelas yaitu ingin menuntut ilmu. Dengan berilmu manusia dapat menjaga dirinya dari segala permasalahan yang dihadapinya (termasuk didalamnya problema kehidupan berumah tangga) seperti yang telah tercantum pada QS. 9:122 agar selamat dunia dan akhirat. Semoga dengan demikian langkah kita semakin mantap dalam menentukan sikap untuk memilih keutamaan yang lebih utama dari keutamaan yang lainnya. Selamat memilih! Wallahu a'lam bishshowaab (Rasyahanifah@netscape.net)

Bila Aku Jatuh Cinta

Cinta. Sebuah kata singkat yang memiliki makna luas. Walaupun belum teridentifikasi secara pasti, namun eksistensi cinta diakui oleh semua orang. Al-Ghazali mengatakan cinta itu ibarat sebatang kayu yang baik. Akarnya tetap di bumi, cabangya di langit dan buahnya lahir batin, lidah dan anggota-anggota badan. Ditujukan oleh pengaruh-pengaruh yang muncul dari cinta itu dalam hati dan anggota badan, seperti ditujukkanya asap dalam api dan ditunjukkanya buah dan pohon.

Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati. Cinta yang takkan bertempuk sebelah tangan. Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya. Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, kaum muslimin. Tapi cinta itu tentu porsinya tidak melebihi cinta kita pada Allah, karena Allah mengatakan, “Katakanlah! ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta-benda yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri akan merugi dan rumah tangga yang kamu senangi (manakala itu semua) lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjiha di jalan-Nya, maka tunggulah keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”

Prestasi kepahlawanan para pejuang tidak terlepas dari pengaruh cintanya seorang pemuda kepada pemudi. Umar bin Abdul Aziz berhasil memenangkan pertarungan cinta sucinya kepada Allah dari pada cinta tidak bertuannya kepada seorang gadis. Tidak ada yang salah pada cinta. Berusahalah menempatkannya pada tempat, waktu dan sisi yang tepat.

Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engaku mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu. (Yesi Elsandra, special untuk yang saling mencintai karena-Nya)

Artikel Cinta

Cinta adalah sebuah karya dalam dunia yang kecil, bersembunyi dengan manis disetiap hati manusia, akan menyerebak dengan harum ketika sentuhan kecil itu menyentuh hati tanpa ragu, sehingga kamu lupa kapan kamu pernah mencintai seseorang.



Cinta adalah kerahmatan yang diberikan padamu sejak kau pertama kali bernafas di dunia, bersama hembusan kasihnya menemani karpet merah kehidupanmu.



Cinta adalah sebuah penerimaan tanpa sebuah tuntutan, dia bukan sebuah keegoisan untuk setiap ketidakberdayaan, tapi dia adalah penopang untuk setiap kekalahan.



Cinta adalah kepasrahan jiwa, sebuah keindahan tanpa sebuah kecemburuan, karena cemburu akan menjadikan cinta sebagai awal sebuah perpecahan.



Cinta adalah keikhlasan untuk terus memberi, tanpa harus mendapatkan sesuatu dari apa yang telah diberi, dia murni bagai air yang terus mengalir mengenangi tanah-tanah gersang.



Cinta adalah sebuah ungkapan tanpa suara, ia terbaca dengan sikap, tatapan mata dan melodi jeritan hati yang akan terdengar oleh hati-hati manusia yang memiliki seribu cinta dihatinya.



Pecinta sejati adalah mereka yang tidak pernah menyiakan waktu mereka untuk berujar �Aku mencintaimu�, tetapi nafas, sikap dan tatapan mereka adalah sebuah ungkapan tanpa butuh sebuah jawaban dan pembalasan untuk setiap cinta yang pernah dia berikan.



Pecinta sejati bukanlah orang yang memuja cinta, dia memberikan ribuan cinta, kasih dan sayang dengan tangan-tangannya dan terus meniupkan helaian demi helaian mawar cinta untuk setiap orang disekelilingnya.



Pecinta sejati adalah kekasih yang tak perlu banyak bicara untuk sebuah jalinan kasih, dia memberikan pita-pita cinta untuk setiap kado yang akan diberikan kepada orang yang dicintainya setiap menitnya, tak pernah lelah untuk terus mencintai dan tak pernah menuntut untuk mendapatkan kesempurnaan kekasihnya, tetapi ia membiarkan kekasihnya tumbuh dengan dewasa dengan cinta yang ia berikan, memberi bimbingan ketika kekasihnya salah arah.



Pecinta sejati, bukanlah mereka yang bodoh untuk mencintai orang-orang yang hanya bisa menuntut, meminta hak, memberikan ribuan kecemburuan yang akan menghujamnya hingga luapan kemarahan akan membuatnya untuk berhenti bersama mereka walaupun ia tak akan berhenti untuk mencintainya.



Pecinta sejati adalah mereka yang memiliki pendirian untuk mencintai seseorang, mereka adalah orang dengan insting tajam yang tahu kepada siapa mereka akan berjalan seumur hidupnya, memberikan kediaman terdamai di dunia untuknya dan kekasih sejatinya.



Pecinta sejati adalah mereka yang selalu menggenggam tangan kekasihnya dengan erat, merangkul sahabat-sahabatnya, memberi sebuah jawaban untuk setiap pertanyaan tanpa amarah tetapi dengan senyuman yang menyejukkan jiwa.



Pecinta sejati bukanlah pujangga picisan yang berteriak tanpa pembuktian, yang berjalan tanpa tentu arah, ia berjalan dengan keharuman yang akan ia semerbakkan untuk membangunkan emosi yang lain untuk bisa saling mencintai, karena sesungguhnya manusia adalah untuk saling mencintai�.



Pecinta sejati adalah mereka yang tak pernah berhenti untuk mencintai seseorang walau waktu mereka telah habis di dunia, walau matanya tertutup dalam panggilan suci-Nya, cintanya akan terus ada mengiringi kehidupan-kehidupan lain yang akan terus berjalan dan yang akan mengenang semua cinta yang pernah diberikannya.



Sebuah ungkapan cinta dari sudut kecil mata hatiku, setiap ia menyentuh tanpa ragu, diungkapkan untuk menyentuh hati para pecinta yang masih berusaha untuk mencinta, punya segudang cinta yang akan terus diberikan untuk mereka yang dicintainya, untuk Tuhan, keluarga, kekasih dan orang disekelilingnya. CINTA akan menuntun hidupmu lebih baik, bersama keanggunannya akan membuat hatimu lebih indah dan auramu lebih cantik. Salam dariku untuk para pecinta.... We still fight in love... hope u are the true lovers.... :D



Regrads



Nofriza Nindiyasari



-: Sarikata.com :-

Pengirim : Nofriza Nindiyasari

Sumber : Own Collection

Artikel ID : 6927

Berdialog dengan Satu Detik

Berdialog dengan "SaTu DeTiK"

Pada suatu hari aku duduk dan menghadapkan
hati ini ke hadirat Allah sambil menyesali rentangan usia yang telah
kulalui. Kupanggil satu detik dari waktu hidupku. Aku katakan
kepadanya :

(+) Aku harap agar engkau mau kembali lagi
kepadaku, supaya aku dapat menggunakanmu untuk berbuat kebajikan.

(-) Sesungguhnya tidak ada waktu yang sudi
berkompromi untuk berhenti.

(+) Wahai detik......aku memohon, kembalilah
padaku agar aku dapat memanfaatkanmu dan mengisi kekuranganku pada
dirimu.

(-) Bagaimana aku dapat kembali kepadamu,
padahal aku telah tertutup oleh perbuatan-perbuatanmu!

(+) Coba lakukanlah hal yang mustahil itu
dapat kembalilah padaku. Betapa banyak detik-detik selain kamu yang
juga aku sia-siakan ?

(-) Seandainya kekuasaan ada di tanganku,
pastilah aku kembali kepadamu, namun tiada kehidupan bagiku. Dan itu
terlipat oleh lembaran-lembaran amalmu dan diserahkan kepada Allah
swt.

(+) Apakah mustahil, jika engkau kembali lagi
kepadaku, padahal saat ini engkau sedang berbicara kepadaku ?

(-) Sesungguhnya detik-detik dalam kehidupan
manusia, ada yang dapat menjadi kawan setianya dan ada kalanya ia
menjadi musuh besarnya. Aku adalah termasuk detik-detik yang menjadi
musuhmu dan yang akan menjadi saksi atas kamu di hari kiamat kelak.
Mungkinkah akan bertemu, dua orang yang
saling bermusuhan ?


(+) Aduh, alangkah menyesalnya aku. Betapa
aku telah sering menyia-nyiakan detik-detik dalam perjalanan hidupku!
Tetapi sekali lagi aku mohon sekiranya engkau sudi kembali kepadaku,
niscaya aku akan beramal saleh "di dalammu" yang pernah aku tinggalkan.

Maka detik itupun terdiam, tidak mengeluarkan
sepatah kata pun. Aku pun lantas memanggilnya :

(+) Wahai detik, tidakkah engkau dengar
panggilanku ? Kumohon jawablah.....

(-) Wahai orang yang lalai akan dirinya,
wahai orang yang menyia-nyiakan waktu-waktunya...........Tahukah kamu,
saat ini, demi mengembalikan satu detik saja, sesungguhnya kamu telah
menyia-nyiakan beberapa detik dari umurmu. Mungkinkah engkau dapat
mengembalikan mereka pula ? Namun aku hanya dapat berpesan kepadamu,
"Sesungguhnya segala perbuatan yang baik
itu menghapuskan (dosa) segala perbuatan yang buruk".

Maka, wahai sahabatku bersegeralah......,
beramallah, bersungguh-sungguhlah, bertakwalah kepada Allah dimana pun
engkau berada. Ikutilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik,
niscaya perbuatan baik itu akan menghapusnya, dan bergaullah dengan
sesama manusia dengan budi pekerti yang luhur.

(Dikutip dari "Efisiensi Waktu Konsep Islam")

Dari posting Zubir Agusman di milis Isnet.