Pages

28 Feb 2008

Ayat-ayat Cinta Di Bajak !!!


Saya pikir, setelah materi film sebanyak 7 Rheel dibawa dari India menuju Jakarta, saya bisa sujud syukur dan berseru 'akhirnya film ini selesai juga.’ Sejauh yang saya bayangkan, tidak akan ada lagi persoalan besar yang menghadang. Tapi tidak sangka, hasil film ketika diperbanyak di lab Jakarta, hasilnya scratch, seperti nonton film ‘Janur Kuning’. Dua lab Film yang ada di Jakarta (yang ternyata satu-satunya lab di Negeri ini) tidak bisa menanggulangi persoalan itu. Belum lengkap seminggu ada di Jakarta, 7 Rheel Film Ayat-Ayat Cinta diterbangkan di Bangkok untuk diperbanyak sekaligus diberi Subtitle. Lagi-lagi kita kejar-kejaran dengan waktu karena paling tidak film harus sudah jadi tanggal 18 Februari untuk Gala Premiere di Plaza Senayan-Jakarta.
Di Bangkok, persoalan scratch terselesaikan dengan baik dengan cara melakukan duplicate negative film tersebut. Akhirnya, 70 copy film Ayat-Ayat Cinta terselesaikan dalam waktu satu minggu. Pada saat dilakukan pengiriman melalui bandara Swarnabhumi-bangkok, kita terganjal maskapai penerbangan Garuda. 70 Copy tidak boleh di bawa, harus melalui Kargo. Padahal beberapa producer pernah melakukan itu sebelumnya dalam airlines yang sama. Kita sempat berdebat panjang di depan counter check in. Akhirnya hanya 10 copy saja yang bisa kebawa, sisanya harus lewat Kargo. 4 orang yang semula menyertai saya membawa 70 copy tersebut akhirnya harus tinggal di Bangkok untuk mengurus pengiriman lewat Kargo. Saya semakin was-was karena isyu birokrasi di lembaga Bea Cukai bandara terkenal rumit dan banyak preman. Salah-salah film AAC terganjal di Bea Cukai.
Pada saat saya melakukan pengecekan ulang atas 10 Copy untuk keperluan Gala Premiere di Plaza Senayan, saya mendapatkan sms dari teman saya kalau AAC sudah ada bajakannya. Saya kaget, karena belum pernah sepanjang sejarah saya membuat film, pembajak membajak film Nasional. Saya punya kenalan pengusaha dvd bajakan di Glodok yang bahkan pernah bilang ‘Kita tidak membajak film-film Indonesia. Kasihanlah, film Indonesia kan lagi tumbuh. Sayang kalau dibajak. Film Amerika aja yang kita bajak. Mereka kan udah kaya.’ Saya tersenyum dalam hati. Moralitas kadang muncul tanpa kita duga dari jenis manusia seperti apa.
Persoalan moralitas dan manusia itu kemudian yang membawa saya menelusuri kebenaran berita pembajakan film AAC. Manusia seperti apa yang tega melakukannya? Moralitas seperti apa yang dia anut, kalau manusia kelas pembajak glodok (yang menyikapi bajakan sebagai bisnisnya) saja bisa menerapkan ukuran nilai atas produk yang dia bajak.
‘Saya sangat menyesal mendengar itu, Mas. Kini di Malang sedang geger’ begitu bunyi sms dari teman saya di Malang. Seperti sebuah bola salju yang tergulir, sms-sms lain datang dari Surabaya, Makasar, Jogja. Mereka tidak sekedar mengabarkan, tapi memberikan analisa detil gambar, suara dan hasil edit atas film bajakan AAC. Bahkan ada yang bilang kalau hasil bajakan tersebut sudah di komentari di internet. Subhanalloh!
Saya cuma bisa diam. Hati saya bergolak. Bukan karena film saya di bajak yang kemudian keuntungan yang saya terima sedikit. (Ah, lagi-lagi kalau kita bicara materi tidak akan ada habisnya). Mari kita membebaskan diri dari kecenderungan menilai pembajakan dari unsur materi. Hal paling besar dari pengaruh bajakan adalah: Penonton tidak dididik menghargai kualitas terbaik dari sutradara. Film Ayat-Ayat Cinta, sekalipun di bajakan bisa diikuti jalan ceritanya, tapi bukan kualitas terakhir dari sutradara-producer dan kru serta pemain. Artinya belum ada music yang layak (Masih musik kasar yang diambil dari film Schindler list, Kamasutra, Pasion of Christ, dsb), belum ada tata suara yang mendukung seperti suara Ustadz Jefri melantunkan ayat dan doa, suara Fahri di masjid Al Azhar saat Talaqi masih suara cewek, suara-suara atmosfer lalu lintas di Kairo juga belum masuk. Pendeknya, hasil dari bajakan tersebut belum layak untuk menjadi bahan apresiasi penonton. Jika sudah begitu, apakah penonton juga layak menilai sebuah produk yang memang belum layak untuk di apresiasi?
Kabarnya, saya mendengar justru yang mengkonsumsi AAC bajakan kebanyakan umat muslim pecinta novel AAC. Semoga berita itu tidak benar. Tapi terlepas dari semua itu, saya menyayangkan sikap siapapun yang terlibat, baik membajak maupun mengkonsumsi bajakan tersebut. Apalagi melakukan penilaian atas dasar film bajakan tersebut yang kemudian menghasut, mencerca dan menjelek-jelekkan filmnya dan calon penonton yang mau menonton di bioskop. Saya hanya bisa berharap kepada Alloh untuk memaafkan orang-orang yang melakukan itu. Bagi yang tidak melakukannya, saya ucapkan terima kasih yang paling dalam. Kepadanya, saya hanya berharap doa untuk saya tetap sabar dan tidak terpengaruh.
Jujur, sekali lagi bukan materi yang saya kejar. Lebih dari itu, film ini telah membuat saya mencintai lebih dalam agama Islam, karena keindahan Quran yang menekankan kesabaran dan keikhlasan umatnya.

Robbana Afrigh alaina Sabran, Wa tsabit Aghdamana wan surna 'alalqoumil kafiriin

Diambil dari Blognya Mas Hanung

26 Feb 2008

Hehehehehe....

Dengungan sopran dari gitar itu
Membuat aliran darahku ikut naik
"Lihat cara dia berjalan oh mengagumkan...oh mengagumkan..."
"Ikuti jalan fikirannya oh mengesankan... oh mengesankan..."
(Sheila On 7 :Karna Aku setia)

Objek itu adalah orang yang selama ini aku rindukan untuk bertemu dengannya
Yang selalu aku bawa dalam mimpiku
Yang selalu aku cintai dari dalam hatiku yang tulus
Yang selalu kuharapkan dia sudi berkata padaku dan hapuskan rinduku

Karena aku pasti mengagumi dengan hati
Disetiap jengkal indahnya
Disetiap jengkal mulianya
(Sheila On 7 lagi...)

Dialah Muhammad Putra Abdullah
Rasulku yang dikirim untukku dan untuk alam seluruhnya

Cela blogku !!!

Apa kriteria sebuah kreatifitas ?
Menyedihkankah apabila kreatifitas dibalut dalam
sebuah keakraban ?

Salahkah aku bersendu sedan di sini ?
Salahkah bila aku curhat di blogku sendiri ?
Tidak kreatifkah aku saat yang kuukir disini
hanya ceritaku ?

Apa aku lebih buruk dari orang yang hanya bisa
copy paste tanpa menyertakan sumber aslinya ?
Salahkah aku pabila yang kutulis disini hanya
catatan hidupku ?

Tidak kreatifkah aku saat yang kuukir disini
hanya curhat hatiku ?
Enyahlah kau wahai pencela !
Kau yang hanya bisa merusak dan mengganggu hidup
dan kedamaian.
Semua nasehat yang kau berikan hanya akan membuat
hidupku menjadi dingin dan diam seperti bumi.

Tidakkah kau perhatikan ?
Nyebelin ini adalah catatan seorang jejaka. Dan
bukan ajang buat penulisan ilmiyah ?
Apakah kau lebih kreatif dariku saat aku hanya
bergelut di duniaku dan kau diduniamu ???

Kita lihat dunia, dan celaanmu !
Karena celaan demi celaan sepertimulah yang
sekarang mewarnai dunia yang tak lagi damai
karenanya.

Ingat ini blogku dan blog semua orang yang
menyukai untuk bisa meresapi dunia.
Tanpa hadirmu disini, aku takkan mati.
Dan blogku akan tetap hidup bersamaku.

25 Feb 2008

Teriakanku !!!

Nilku mengering karena Mesirku yang telah berubah
Kini, tak dapat kutemui eksotisme pelosok Heliopolis
Hangatnya hari di gurun Tagammu Awwal
dan Indahnya tatanan kota di Rabea Adawea
Yang ada sekarang hanya ketakutan yang merongrong dari Bawwabat dan Ashir.
Yang kutakutkan kini terjadi
Fenomena tragis itu kini benar-benar terjadi
Tak ada rasa aman
Tak bisa kubeli rasa aman

Aku mencoba keluar dari keadaan hipokrit ini
Tapi aku tak mau dibilang munafik
Aku hanya berjuang untuk bisa meramaikan ajang
Survivor dalam pentas kehidupan
Tapi aku terlalu lemah

Kini Cleopatra pun menangis
Meratap malu
Tak tahu apa yang akan dipertanggung jawabkannya kepada
Ibu Pertiwi dan anak-anaknya
Atas perlakuan semena-mena anak cucu Fir'aun


Aku sering bertanya dalam hati
Tak adakah orang yang berhati Asyiah
Yang rela mengambil jabang merah dari aliran Nil yang deras
Dari kejamnya gelombang dan bebatuan
Lalu menyusuinya dengan kasih sayang dan ikhlas

Kembalikan cantik Mesirku yang dulu
Yang dimana kuberharap tuk temui Maria dan Aisha disana

Duhai, Kinanah...
Aku tahu kau malu padaku atas perlakuan anak cucumu
Kau malu karena kau telah menyandang gelar Ibu peradaban Dunia
Tapi, sudahlah
Ini adalah kelemahan kami
Ya, kelemahan negara kami
Yang dulu kami banggakan dengan Majapahit
Yang kami banggakan dengan gema ripah loh jinawi
Tapi sekarang tak berdaya lindungi anak-anaknya di Negeri Musa
Tak berdaya perhatikan kami disini
Tak berdaya tuk sekedar menoleh menatap kami dinistakan disini
Kau tahu sebabnya kenapa ???
Karena mereka terlalu sibuk perhatikan urusan mereka sendiri
Mereka hanya bisa mencela tatkala kami salah
Dan berpaling tatkala kami ada dan bergerak bersama

Duhai, Azhariy..Andunisiy...
Sabar dan ikhlas...
Jangan sombong dengan Azharmu
Allah sedang mencobamu, mengujimu
Sabar dan ikhlas
Sabar dan ikhlas...

Nilku mengering karena Mesirku yang telah berubah
Kini, tak dapat kutemui eksotisme pelosok Heliopolis
Hangatnya hari di gurun Tagammu Awwal
dan Indahnya tatanan kota di Rabea Adawea
Yang ada sekarang hanya ketakutan yang merongrong dari Bawwabat dan Ashir.
Yang kutakutkan kini terjadi
Fenomena tragis itu kini benar-benar terjadi
Tak ada rasa aman
Tak bisa kubeli rasa aman

Cairo, Komputer baruku