Pages

27 Sept 2011

Asyiknya berkhayal.

Malam itu saya sebenarnya sangat lelah. Tapi saya paksakan, karena di undangan tertulis "Kehadiran Anda Sangat Penting". Merasa dijadikan orang penting, tanpa bisa menolak saya akhirnya menyanggupi undangan kumpul tersebut.

Kumpulnya sebenarnya sederhana. Hanya bicara perihal persiapan besok dalam acara pertandingan basket yang digelar oleh teman-teman mahasiswa Indonesia di Kairo. Kebetulan saya masuk dalam tim Antah Berantah. Rencananya, kami akan berbicara mengenai strategi apa yang akan kami terapkan besok dalam lapangan.

Awalnya memang serius, tapi lama-lama saya merasa bosan. Karena arah pembicaraan sudah jauh melambung. Wacana-wacana euforia kemenangan (yang belum diraih) besok dibiarkan lepas bebas mengalir dalam arus pembicaraan kami. Kami terbuai oleh angan-angan besok hari yang belum pasti. Tapi terus terang, ini indah.

Berkhayal, berangan, bermimpi atau berwacana, membuat saya mengawang-awang. Awalnya memang manis dan indah, tapi lama-lama bisa mematikan hati. Dan itu tak hanya terjadi sekali. Sedetik kita hanyut, beberapa jam kemudian kita akan tenggelam dan kelelep dalam lautan angan.

Lingkaran Setan

Begitulah kira-kira Pak Rhenald Kasali mengungkapkan opininya tentang wacana yang terlalu tinggi dan liar. Akhirnya tak bisa benar-benar direalisasikan. Yang berkembang justru bukan kenyataan, tapi malah wacana tersebut yang kian liar tak bisa dikendalikan.

Kita sering terjebak oleh konsep-konsep yang selalu mengiming-imingi harapan yang besar. Kalau tidak disertai oleh tindakan yang konkret dan jelas, hal ini bisa malah jadi bumerang bagi diri kita sendiri untuk tidak bisa berkembang dan kreatif.

Asyiknya berkhayal.
Menurut saya, kreatifitas itu tidak hanya dihasilkan dari karya-karya saja. Tapi kematangan konsep dan perilaku kita dalam mewujudkan konsep tersebut. Jadi, setelah wacana dan hasilnya di sana ada ruang kosong yang diisi oleh kreatifitas. Dan ini akan menghasilkan hal-hal yang dahsyat.

Kita harus berani berbuat, berani mengambil resiko sekecil-kecilnya. Dan tak boleh bosan dalam melakukan percobaan. Kita harus benar-benar keluar dari kungkungan lingkaran setan wacana ini. Begitu kurang lebihnya ungkap Pak Rhenald Kasali.

Coba dan perhatikan!

Ada sebuah idiom berbahasa Arab yang pernah masyhur di Pondok saya dulu. "Jarrib wa laahidz takun 'aarifan" yang artinya Coba! dan Perhatikan, niscaya kau akan tahu.

Idiom ini secara tidak langsung bisa kita jadikan senjata ampuh mewujudkan wacana kita. Jangan pernah malu mencoba dan gagal. Jangan takut gagal. Kegagalan itu bukanlah kejelekan. Gagal itu justru proses menuju sebuah keberhasilan. Tentunya apabila kita terus mengoreksi diri dan mengevaluasi langkah-langkah yang sudah diambil.

Kita tentu bisa membayangkan seandainya dulu Thomas Alfa Edison larut dalam wacananya tentang cahaya bola lampu, entah tahun berapakah kita akan bisa menikmati lampu yang ada sekarang. Tapi kenyataanya, beliau berhasil keluar dari wacananya, dan mempraktekkan idiom tersebut. Hasilnya, apa yang kita nikmati sekarang. Terang benderang!

Berangan, bermimpi yang tinggi memang indah. Tapi apabila terlalu tinggi, dan kita belum mempersiapkan tempat jatuh yang empuk. Sama saja dengan bunuh diri. Maka dari itu, persiapkan diri. Jangan sampai kita menjadi bukti Idiom Arab yang berbunyi "Halaka-mru'un lam ya'rif qadrahu" Binasalah seseorang yang tak tahu diri (belum mempersiapkan dirinya).

20 Sept 2011

Salahkan saja kucingnya!

Saya heran ketika membaca sebuah berita di salah satu media dotkom tentang aksi protes para wanita terhadap pernyataan Gubernur DKI Jakarta tentang langkah antisipasinya terhadap aksi perkosaan yang selama ini terjadi.

Dalam berita tersebut, berikut komentar-komentar di bawahnya, tampak sekali mereka lebih mengkritik pernyataan tersebut. Malah ada yang terang-terangan tidak suka dengan pernyataan tersebut yang "katanya" memojokkan kaum hawa.

Bang Foke, sapaan akrab Gubernur DKI Fauzi Bowo, menyatakan bahwa beliau mengkritik para wanita yang kini lebih banyak menggunakan rok mini di tempat umum. Hal ini bisa menimbulkan stimulus-stimulus yang berakibat pada maraknya aksi perkosaan terhadap wanita.

Anehnya, banyak sekali yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Malah banyak yang menyitirnya ke arah pengekangan hak asasi manusia untuk berbusana. Dalam hati saya, afa-afaan ini??!!

Bang Napi
Kekacauan 

Salah seorang teman saya mencoba menganalogikan kasus ini dengan perumpamaan unik. Ada seorang pemudi  meletakkan ikan goreng di lantai tanpa penutup. Ketika sang pemudi lengah, datang seekor kucing mengambil ikan tersebut. Lalu memakannnya. Tak lama kemudian pemudi tersebut menemukan ikannya tinggal tulang. Lalu memarah-marahi sang kucing yang tanpa dosa sudah memakan ikan tersebut.

Dari kasus di atas, siapa yang salah?

Kata bang Napi yang sudah menjadi jargon di dunia kriminalitas, "Ingat, kejahatan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!"

Kalau kita kembalikan kepada kasus perkosaan yang marak akhir-akhir ini. Pantasnyalah kita selalu mengintrospeksi diri. Kasus-kasus itu terjadi bukan karena tanpa sebab. Pasti ada sebabnya. Selain karena ada niat pelaku, juga karena ada kesempatan yang diberikan pada mereka lewat penampilan-penampilan seronok.

Kalau ada yang berpendapat, "Di luar negeri, memakai rok mini dan bikini saja biasa-biasa saja.. aman kok". Saya jadi penasaran, di belahan negeri mana itu? Mungkin yang berpendapat demikian terlalu banyak menonton film barat yang mengaku rasionalis tapi nyatanya dalam film-film mereka semuanya adalah mimpi.

Kita sebagai bangsa Indonesia tidak seharusnya melulu mengaca pada apa yang terjadi di Barat. Kita bangsa Asia. Kita tidak siap kalau harus menerapkan 100% semua apa yang ada dari sana. Bangsa kita bangsa yang berbeda. 

Berbicara masalah hak asasi berpenampilan pun di sini saya rasa kurang tepat. Kebebasan seseorang dibatasi oleh hak orang lain. Justru dengan anjuran tersebut, pemimpin kita berusaha menjaga hak asasi kita sebagai manusia yang mulia.

Antisipasi

Tidak berlebihan akhirnya kalau bang Foke mengeluarkan statemen demikian. Harus ada sinergi antara pemerintah selaku penjaga keamanan dan masyarakat yang menciptakan keamanan diri mereka sendiri. Pemerintah harus sigap menanggulangi setiap tindak kriminalitas yang terjadi. Baik dengan memperketat pengamanan di titik-titik rawan maupun dengan penyuluhan-penyuluhan.

Masyarakat bertugas mengkondisikan rasa aman bagi dirinya sendiri. Dan mereka harus menumbuhkan rasa aman dari dalam diri mereka. Bagaimana? Yaitu dengan meminimalisir kesempatan bagi para pelaku tindak kejahatan. Juga dengan selalu bekerja sama dengan aparat keamanan.

Ingat sebuah ayat dalam Al-Quran dalam surat An-Nisa yang berbunyi, "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu."

Bagaimanapun, apa yang dianjurkan oleh pemimpin kita selama itu menuju kepada kebaikan harus kita taati. Apalagi yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan kita. Karena kita-lah yang bisa mengkondisikan keamanan bagi diri kita sendiri.

Wallahu a'lam.

 

20 May 2011

Perdebatan Meja Makan


Saya mencoba kalem-kalem saja ketika sadar bahwa seharian ini saya tidak beranjak kemana-mana. Entah malas atau apa saya biasa menyebutnya, yang jelas saya merasa duduk dan diam di rumah lebih nyaman ketimbang keluyuran di luar. Ada sekat yang tak terlihat di antara lubang pintu.


Ketimbang saya menggerutu tak jelas, saya berusaha mengalihkan dengan membaca buku (memang seharusnya begitu). Tapi otak ini menolak mentah-mentah apa yang sudah saya baca. Tulisan-tulisan itu hanya sampai retina, belum masuk ke hati apalagi otak. Sudahlah, sambil menggerutu tak jelas saya menuju dapur.


Sayup-sayup saya mendengar lagu sendu dari sebuah grup band lokal. Mengiang-ngiang beradu bersama suara isi penggorengan yang sedang saya garap. Isinya kurang lebih begini:


sungguh aku tak bisa, sampai kapanpun tak bisa

membenci dirimu, sesungguhnya aku tak mampu

sulit untuk ku bisa, sangat sulit ku tak bisa

memisahkan segala cinta dan benci yang ku rasa

Manusiawi memang. Kalau mendengar musik, tak alang entah itu dengkul atau tumit pasti terpancing untuk bergerak. Mengikuti lantunan nada mendayu, bergerak dinamis kesana kemari. Kalau tak ingat sedang berada di dapur, bisa saja saya jadikan sutil penggoreng pengganti microphone. Heheh


Masakan jadi. Penuh protein dan karbohidrat. Juga cacapan asam kamal yang bahan intinya saya bawa dari Indonesia baru-baru ini. Melenggang menuju ruang makan, hati girang. Makanan segera terhidang. Teman-teman datang, melihat menu terhidang mata mereka terang.


Resepsi makan-makan pun berjalan dengan obrolan santai. Sementara itu suasana masih tenang. Tapi beberapa menit kemudian pecahlah obrolan menjadi sebuah perdebatan. Naluri saya bertanya, ada apa gerangan?


Perseteruan terjadi antara kedua teman saya, sebut saja A dan B. Mereka saling mengukuhkan bahwa pendapatnyalah yang paling benar. Si A menuding si B mempertahankan kebatilan, sebaliknya B tak mau kalah. Apa pula masalahnya?


Ternyata mereka berbeda pendapat tentang penggunaan huruf "K" pada akhir kata. Hal ini bermula dari lagu yang sempat mengalun tadi. Bak lomba Kelompencapir yang terkenal di TVRI dulu mereka berdebat. Meja makan berubah menjadi meja presentasi. Si A berkeyakinan bahwa semua kata berakhiran "K" harus dibaca "K" secara jelas. Contohnya, kata kotak dibaca kota(k), tidak dibaca tida(k). Dan lagu tadi akhirnya harus dinyanyikan dengan jelas seperti:


sungguh aku ta(k) bisa, sampai kapanpun ta(k) bisa

membenci dirimu, sesungguhnya aku ta(k) mampu

sulit untu(k) ku bisa, sangat sulit ku ta(k) bisa

memisahkan segala cinta dan benci yang ku rasa


Sedangkan B berpendapat sebaliknya. Tidak semua huruf "K" pada akhir kata dibaca jelas, ada beberapa pengecualian di sana. Contohnya, tidak menjadi tida', capek menjadi cape', dan lain sebagainya. Walhasil, lagu itu pun menjadi berbunyi:


sungguh aku ta' bisa, sampai kapanpun ta' bisa

membenci dirimu, sesungguhnya aku ta' mampu

sulit untu' ku bisa, sangat sulit ku ta' bisa

memisahkan segala cinta dan benci yang ku rasa


Akhirnya keduanya berhenti sebentar untuk mengambil nafas setelah gencar beradu argumen. Lucu saja, saya membayangkan kalau semua kata dibaca jelas, maka enggak harus menjadi engga(k). Atau tidak dibaca semuanya dengan jelas, maka handuk menjadi handu'? Hahaha

Tawa saya terhenti ketika mata keduanya melirik tepat ke arah saya, tatapan mereka masuk menghunjam ulu hati. Isi pesan tatapan itu adalah : Tolong dukung saya! Kuatkan pendapat saya. Oalah, meminta dukungan ternyata.


Akhirnya saya putuskan untuk tidak mendukung siapa-siapa. Kedua-duanya benar, dan tujuan keduanya memang mulia. Yaitu mempertahankan bahasa Indonesia yang baku, baik dan benar. Saya hanya tidak mau perbedaan tentang hal-hal seperti ini malah menambah jumlah perbedaan yang sudah tidak terhitung di atas muka bumi ini. Perbedaan memang rahmat, tapi membedakan diri itu kholif tu'rofnamanya.


Lebih baik menikmati hidangan yang berbeda di atas meja. Ada ikan kering sepat di sana, ada juga ikan kering gabus. Plus cacapan asam khas Kalimantan. Amboi…





Eksistensi Manusia menurut Ibn Rusyd

"Kak Irfan…"


Saya seperti limbung mau terbang kalau mendengar seseorang memanggil seperti itu. Siapapun dia yang memanggil, apapun panggilannya, asal nama saya disebut, saya senang sekali. Saya merasa bahwa kehadiran saya dirasakan. Eksistensi saya diakui. Ana yu'tabar jell!!!~


Manusia manapun akan bahagia kalau eksistensinya diakui. Karena memang sebagai fitrahnya, manusia butuh pengakuan eksistensinya. Sehingga kelangsungan hidupnya bisa berjalan. Bayangkan saja, secara naluri. Manusia ketika berbicara dia ingin didengarkan, maka dia akan berusaha mencari perhatian lawan bicaranya. Baik itu dengan mengangkat tangan atau mengeraskan suara. Tak lebih untuk sekedar menyatakan bahwa dia ada dan ingin didengarkan. Seperti hal itu pula dalam hubungan mu'amalah. Dalam belanja, membutuhkan bantuan manusia lain. Tanpa pengakuan dari orang lain, dia bukanlah apa-apa. Padahal manusia itu adalah madaniy bitthab'iy.


Kita mungkin tak terlalu asing dengan nama Averroes atau Ibnu Rusyd. Beliau adalah filsuf Muslim yang terkenal. Banyak dari pemikir-pemikir Barat mengambil ide-ide beliau. Salah satunya, sekte Dominikan pada zaman pertengahan yang banyak mengadopsi terjemahan-terjemahan Ibnu Rusyd dari pemikiran-pemikiran Aristoteles. Sekarang, bagaimana pendapat Ibnu Rusyd terhadap eksistensi manusia?


Berbicara tentang manusia kita tidak bisa lepas dari definisi al-Nafs. Karena menurut Ibnu Rusyd, manusia itu terdiri dari dua hal. Yang menggerakkan dan yang digerakkan. Yang digerakkan ini lebih bersifat bentuk, sedangkan yang menggerakkan lebih bersifat materi. Yang menggerakkan ini sendiri menurut Ibnu Rusyd terdiri dari dua hal yang berbeda secara realita, yakni ar-Ruh (nyawa) dan al-Nafs (jiwa).

Allah SWT menciptakan untuk manusia kebaikan dan keburukan (al-Khayr wa al-Syarr). Manusia dibebaskan untuk memilih diantara kebaikan dan keburukan tersebut, hal ini biasa disebut hurriyatul ikhtiyar. Manusia diberikan kebebasan penuh untuk berbuat. Dan tentu di balik hal itu ada tersimpan hikmahnya.


Ibnu Rusyd terkenal dengan idenya yang mengatakan bahwa al-Nafs itu hanya satu. Berpedoman dari Surat An-Nisa ayat 1 dan ayat-ayat yang lain menyatakan bahwa al-Nafs itu hanya satu. Dan menurut beliau, al-Nafs inilah yang mempunyai peranan besar dalam diri manusia untuk memilih antara kebaikan dan keburukan.


Dari sini jelas bahwa Allah SWT menciptakan kebaikan dan keburukan serta memberikan kepada manusia kesempatan untuk menunjukkan eksistensinya dengan memberinya kebebasan memilih. Tidak ada paksaan. Dia memilih kebaikan, dia berhak akan surga. Begitupun sebaliknya, dia memilih keburukan, baginya neraka. Apabila manusia tak dibebaskan memilih dan berbuat, lantas apa wujud dari eksistensinya di muka bumi ini? Manusia tak lebih dari sehelai kapas yang diombang ambing oleh tiupan angin.


Contoh lain bisa kita temukan di kampus ketika ujian. Kita diberikan kebebasan oleh Duktur untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di kertas soal setelah sebelumnya kita pelajari mana yang benar dan mana yang salah. Eksistensi kita sebagai mahasiswa terwujud kalau kita berhasil memilih jawaban itu dari apa yang kita pelajari. Benarkah itu atau salahkah, pada intinya kita sudah menjalani ujian secara baik dan benar. Dari situ jelas terwujudnya eksistensi Ujian sebagai proses berlangsungnya al-Ikhtibar, eksistensi Duktur sebagai seorang guru yang mengajar dan menguji, dan eksistensi kita sebagai mahasiswa yang belajar dan diberi kebebasan menjawab. Kalau kita benar, kita berhak untuk dibenarkan. Kalau salah, kita tidak mungkin dibenarkan.


Jadi, menurut Ibnu Rusyd. Kebebasan manusia memilih kebaikan dan keburukan yang diciptakan oleh Allah SWT adalah salah satu wujud aplikasi dari pengakuan eksistensi manusia. Juga sebagai pengakuan bahwa Allah SWT Maha Adil atas hamba-Nya seperti tertuang dalam surat Fushilat ayat 46.


Sebuah pepatah mengatakan: kalau kau ingin dikenang, kau harus membuat kenangan bagi orang lain. Dalam bahasa lain, kalau ingin diakui oleh orang lain, berbuatlah sebanyak-banyaknya agar orang mengenalmu.


Wallah a'lam.

Ransel


Ransel itu, ransel yang sama ketika empat tahun yang lalu aku merajut asa kepergianku ke negeri ini. Ransel tempat aku membawa cita-cita dan bekal hidup. Di dalamnya kutaruh harapan dan doa, kutitipkan padanya segala angan dan kenangan.


Pelan-pelan kulipat cita-cita, kutumpuk menjadi satu. Menjadi sebuah sinergi, seperti apa yang aku inginkan. Pesan-pesan dan doa kuselipkan, agar isinya padat. Agar aku tak kekurangan bekal. Bekal untukku hidup di sini, memanjangkan umur, mencatat sejarah dan memilih jalanku sendiri.


Entah, aku bahagia sekali berkemas dengan ransel ini. Dulu, ada semangat tersendiri terhadapnya. Seperti akan berlibur panjang, seperti akan menyaksikan sebuah pertunjukkan dengan happy ending yang memuaskan. Aku yakin, di sebuah titian akhir, akan ada sebuah kebahagiaan di sana.


Sesampai di tujuan, pelan-pelan aku mengeluarkan isinya. Takut bekalku habis, atau malah hanya pelit pada diri sendiri. Aku begitu mencintai ransel ini, berikut isinya. Menjinjingnya, memikulnya, hingga menikmati isinya merupakan sebuah kecintaan tersendiri. Banyak harapan di sana. Bukan hanya harapanku, harapan mereka. Kalian juga.


Tapi, kepulangan kali ini. Aku begitu membencinya. Aku takut berkemas. Seperti tak melihat tujuan di depan sana. Aku khawatir, akan ada badai dan aku goyah menghadapinya. Aku takut menyaksikan sad scene yang pasti datang, ingin men-skip bagian itu, lalu kembali duduk manis menyaksikan bagian senangnya saja. Pragmatis? Kurasa semua orang ingin begitu.


Aku merasa ransel ini terlalu berat, basah, berbau. Entah isinya busuk atau banyak yang pecah. Aku hanya bisa menyeretnya pelan. Pelan-pelan menuju apa yang aku inginkan. Aku tahu bagaimana rasanya ditinggalkan. Tapi kali ini, hal itu membuatku seakan tidak pernah tau sebelumnya. Banyak sekali lipatan-lipatan kenangan, juga bungkusan harapan yang masih belum aku buka. Aku harus merelakan semuanya hilang. Aku belum menikmatinya.


Sebelum terburu-buru memutuskan mengganti ransel baru, aku ingin mengatakan bahwa aku masih mencintai ransel ini dengan apa yang pernah aku bawa di dalamnya. Dengan cita-cita dan harapan yang kusimpan dalam-dalam di dalamnya. Dalam cinta yang selalu aku bawa kemanapun aku berada.

Dari Kafe, Menyapa Dunia


Di tengah hebohnya demonstrasi besar-besaran kemarin di Maidan Tahrir. Demonstrasi yang tak bosan-bosan menghiasi headline beberapa media lokal Mesir maupun mancanegara. Tak menyangka bahwa sebenarnya keadaan itu seperti terangkum dalam sebuah miniatur kecil obrolan-obrolan maqha (kafe) di kota Kairo.


Seperti orang Melayu yang digambarkan Andrea Hirata dalam Padang Bulan, orang-orang Mesir sangat suka menghabiskan waktunya duduk di maqha. Sambil memutari meja kecil, mereka memulai obrolan seperti kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa, acara khas di TVRI dulu). Masing-masing mengeluarkan pendapat, ada yang menguatkan, ada pula yang membantah. Kadang, nada meninggi kemudian tiba-tiba gelak tawa pecah. Dengan sedikit memuat anekdot-anekdot lawak khas Adel Emam. Jarang sekali ditemukan kesimpulan yang sama. Karena masing-masing punya pendapat dan keinginan yang berbeda.


Maqha juga menjadi sumber pendapatan bagi para penjual koran dan penyemir sepatu. Sambil mengobrol sengit, pipa shisha di tangan, kaki menjulurkan sepatu untuk disemir, mereka seperti memasuki sebuah social networking seru selain Facebook dan Twitter. Obrolan di maqha juga ada istilah yang lazim di Facebook maupun Twitter. Ada komentar, like, maupun re-tweet. Kadang mereka mengomentari situasi politik, naiknya harga isy, maupun keruwetan lalu lintas kota. Kalau ada yang sependapat, tak jarang yang lain ikut membenarkan seperti men-like pernyataan sahabatnya. Ada juga yang menre-tweet kabar berita yang baru saja dia baca dari beberapa media cetak lokal seperti Al-Masry Al-Youm, Al-Shorouq, Al-Wafd atau Al-Gomhoriya.


Kafé di Mesir tidak hanya sebagai tempat duduk santai. Banyak orang mengibaratkan kafe di Mesir bagai "miniatur negara". Di kafe, orang-orang Mesir betah duduk berlama-lama sambil mengobrolkan berbagai macam masalah. Mulai masalah politik, ekonomi, budaya, sastra hingga masalah keluarga. Tak heran jika mereka seakan-akan terlihat seperti pengangguran karena bisa menghabiskan waktu seharian di kafe.

Sejarah juga mengatakan bahwa pergolakan revolusi Mesir di mulai dari kafe-kafe. Banyak sekali orang-orang besar yang memulai langkah besar mereka dari kafe. Bisa disebut, Naguib Mahfouz, seorang sastrawan besar Mesir peraih nobel pada tahun 1988. Tulisan-tulisan tajamnya adalah hasil kontemplasinya di pojok kafe Kairo. Salah satunya yang tersohor adalah Kafe El-Fishawi.


Ketika ramai demonstrasi bergejolak pun, tak sedikit dari orang Mesir yang memulai taktik strategi atau menyusun tuntutan mereka terhadap pemerintah di kafe-kafe sudut kota Kairo. Bahkan, berita-berita perkembangan situasi pun terus mereka pantau dari televisi-televisi di kafe-kafe. Sambil menghisap shisha, menghembuskan asapnya, menggerutu atau malah berkomentar dengan nada yang bersemangat.

Berikut adalah menu-menu mayor beberapa kafe di Mesir.


Syai (Teh)

Dalam buku panduan wisata Fodor's tentang Mesir cetakan The American University in Cairo Press, Syai adalah minuman umum masyarakat Mesir. Minuman ini tak mengenal siapa yang kaya, siapa yang miskin, tua, muda, politisi, hakim, polisi, bahkan supir taksi. Semuanya penggemar berat Syai. Minuman ini bisa diseduh kapanpun. Baik ketika ujian (bagi teman-teman Al-Azhar), maupun di tengah sibuknya suasana perkantoran. Seringkali saya melihat orang-orang Mesir berjalan dengan tergopoh-gopoh menenteng segelas teh di tangan. Atau supir bus dan supir taksi menempatkan segelas teh di dalam kendaraan mereka.

Bagi orang-orang Mesir, Syai hitam dan manis adalah favorit. Kadang bisa disajikan dengan Ne'na' (daun mint). Atau kalau mau yang sejenis, bisa saja meminta disajikan teh rasa kayu manis, atau rasa apel. Tergantung selera masing-masing.

Orang Mesir biasanya melewati waktu meminum teh sambil bermain catur, backgammon, atau ditemani koran-koran sambil sesekali bersungut-sungut menyertakan komentar-komentar terhadap kinerja pemerintah.

Bagi anda yang pernah mampir ke Mesir. Tidak sah sebelum menikmati segelas Syai di atas bukit Muqattam sambil menikmati suasana kota Kairo malam hari.


Shisha

Pada zaman modern kini, rasa shisha tak hanya buah-buahan. Kini, tersedia berbagai macam rasa. Mulai rasa capucinno,coca-cola hingga rasa koktail.

Konon, menghisap shisha bisa memberikan rasa tenang. Maka tak jarang, orang-orang Mesir yang meledak-ledak bisa ditenangkan dengan menyodorkan kepada mereka sedotan shisha. Dengan gaya yang khas. Duduk santai, menghisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya berputar-putar. Seakan akan dengan hembusan tersebut, ikut pula masalah yang mereka pendam dalam hati. Tapi, bagi anda yang mempunyai gangguan saluran pernafasan. Saya anjurkan supaya tidak mencoba, sayangi paru-paru anda.


Qahwa (Kopi)

Kopi di Mesir sebenarnya sudah merupakan campuran dari kombinasi kopi-kopi luar. Hampir bisa ditemukan di setiapstore-store kopi. Tapi, yang khas adalah penyajiannya. Seorang pemuda tampak dengan tanggap berjalan cepat diantara orang-orang yang duduk sibuk mengobrolkan berbagai macam hal. Dengan lempengan besi berisi segelas air putih dan gelas kecil kopi yang kental. Dia tampak tanggap melayani berbagai macam permintaan. Cukup dengan menjentikkan jari.

Kopi kental hitam inilah yang menjadi sumber ilham seorang Naguib Mahfouz menelurkan karya-karyanya. Dari kritik sastra, politik hingga skenario film.


Sahlab

Susu kental yang panas, dengan kacang dan parutan coklat ini merupakan minuman paling nikmat di musim dingin. Biasanya, orang-orang Mesir menikmati minuman ini ketika berkumpul bersama kawan-kawan mereka atau keluarga. Di selingi seruputan sahlab, mereka mengobrol kondisi politik yang sedang berkecamuk. Mulai dari yang pro pemerintah sampai yang menginginkan perubahan.


2 Jan 2011

Sang Pemimpi yang Tak Berhenti Tertidur

Suatu hari saya tak sengaja berkunjung ke beranda depan loby Fesbuk. Di sana saya bisa melihat berbagai macam tipikal penyajian status-status dari kontak yang terdaftar sebagai teman saya. Ada yang curhat masalah cinta, ga ada duit, tugas kampus sampai niat bunuh diri!!!

Tapi ada sebaris status yang menarik mata saya untuk "mampir", sebuah status yang berbunyi "Bermimpilah, karena segala sesuatu berawal dari mimpi".

Bermimpi, itu baik dan benar-benar saja. Apalagi kalau yang diimpikan adalah sesuatu yang positif, hal ini bisa memicu kita untuk berusaha mewujudkannya. Tak sedikit orang sukses yang “katanya” berhasil merubah garis hidupnya dari mimpi.

Banyak sekali buku yang ditulis tentang kekuatan mimpi yang mempengaruhi kejiwaan seseorang, terutama buku motivasi. Rata-rata isinya berbunyi,"Kita harus berani bermimpi!" atau "Bermimpilah, sebelum bermimpi itu dilarang!" (ini tambahan dari saya saja, heheh). Dan tak sedikit pula, novel-novel best seller menggugah yang menceritakan kekuatan mimpi. Tentunya novel-novel ini pula, semuanya berasal dari mimpi pengarangnya.



Sekarang, bagaimana sebuah mimpi bisa mempengaruhi seseorang? Bagaimana mimpi
bisa diwujudkan? Apakah mereka benar-benar bermimpi?





Tak sengaja, saya menonton film yang dibintangi oleh aktor tampan Leonardo di Caprio yang berjudul The Inception. Film ini menceritakan tentang seorang ahli yang bisa memasuki mimpi orang lain. Untuk mencuri data dan bahkan menanamkan sebuah ideologi ke dalam pikiran korbannya. Hebatnya, semuanya dilakukan dalam mimpi. Dengan perencanaan yang matang, sang ahli dan krunya bisa masuk ke dalam mimpi korbannya. Dengan menggunakan proyektor dalam mimpi, tim ini berhasil menanamkan sebuah ideologi ke dalam pikiran korbannya melalui mimpi.

Saya tiba-tiba jatuh cinta dengan film ini. Bagaimana sebuah mimpi bisa merubah seseorang untuk berbuat sesuai dengan apa yang ia impikan. Dia bagaikan tunduk pada "perintah bawah sadarnya". Bagi saya, film ini menarik.

Film The Inception dengan detail menjabarkan proses sederhana bagaimana mimpi bisa merubah seseorang. Bagaimana mimpi bisa memacu seseorang untuk berubah. Hanya dengan menanamkan ideologi, dibantu dengan proyektor mimpi yang membuat mimpi itu seolah nyata, dan kesadaran penuh setelah terbangun akan mimpi yang harus diwujudkan. Semuanya menjadi mata rantai yang tak dapat dipisahkan untuk membangun figur seseorang.

Hasilnya, tak muluk-muluk. Ada novel sang Pemimpi. Novel fenomenal yang bercerita tentang hikayat Ikal dan Arai yang berhasil mendapatkan beasiswa ke Perancis, setelah berjuang mati-matian beradu nasib di ibukota. Novel lain adalah Negeri Lima Menara, cerita tentang 5 orang anak santri yang bertekad mengejar mimpi mereka masing-masing, berawal dari perdebatan tentang bentuk awan yang mereka lihat dari bawah menara.



Kali ini contoh nyata, baru-baru ini saya menyaksikan salah satu acara televisi Kick Andy yang bertema Mengejar Mimpi. Tokoh-tokoh sukses yang dihadirkan antara lain Prof. Dr. F. G. Winarno, yang sekarang menjabat sebagai Rektor Universitas Atmajaya di Jakarta. Karena bosan hidup miskin, beliau bermimpi untuk bisa menjadi kaya. Tapi beliau sadar, hal itu tidak bisa instan. Maka, beliau belajar habis-habisan. Hasilnya, tak perlu kaya. Beliau berhasil mencapai apa yang beliau inginkan. Salah satunya adalah pernah mengenyam pendidikan luar biasa di Luar Negeri. Nama-nama lain ada Dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp. BS (Dokter ahli bedah syaraf). Dr. Purwadi, MHUM. (Dosen Filsafat Jawa). Ada Prof. Dr. Saldi Isra, SH.(Dosen dan ahli hukum tata Negara) dan terakhir ada Dr. Basuki Agus Suparno (Dosen Ilmu Komunikasi). Doktor-doktor ini mengawali langkah mereka dari mimpi yang mereka wujudkan.

Itulah kekuatan mimpi yang kini mulai tereksplorasi. Hingga tak jarang kini banyak orang mengumandangkan slogan "Mari bermimpi!", atau "Bermimpilah untuk masa depan". Tapi alangkah menyedihkan apabila kita terlalu larut dalam sebuah mimpi. Parahnya, tak bangun-bangun dari mimpi dan realita. Yang ada, kita hanya menjadi sang Pemimpi yang tak kunjung terbangun dari mimpinya. Dalam film The Inception, hanya ada dua cara membangunkan sang pemimpi kembali kepada realita. Pertama, mengejutkannya. Kedua, membunuhnya. (Tenang, semua cara ini hanya dilakukan di dalam mimpi).

24 Dec 2010

Ada-ada saja...


Saya terheran-heran akhir-akhir ini. Teman-teman di Kairo sedang gandrung-gandrungnya belajar nyetir mobil. Tak ragu nampaknya mereka menghabiskan waktu berlama-lama di belakang setir, menghabiskan duit juga untuk durasi sewa mobil. Maklum, mahasiswa pemilik mobil di Kairo ini bisa dihitung dengan jari. Jadi kalau ingin menggunakan alat transportasi satu ini, kami harus menyewa dengan tarif yang disesuaikan.

Tatkala ditanyai seorang teman, apakah saya bisa menyetir? Sejujurnya saja saya jawab bahwa saya tidak bisa menyetir. Bukan berniat untuk berapologi, tapi memang saya tidak tertarik belajar menyetir. Padahal di rumah, abah saya punya satu buah mobil kijang tahun 2000an. Tapi tetap, saya tidak tertarik belajar menyetir. (walau akhirnya saya harus bisa juga menyetir)

Saya lebih suka duduk di belakang, menikmati perjalanan ketimbang harus konsentrasi pada jalan. Malahan saya berniat untuk tidak bisa menyetir sama sekali, saya nanti cukup menggaji sopir pribadi yang akan mengantarkan saya kemari sedang saya bisa mempersiapkan hal lain sebelum menuju pekerjaan. Seperti, melengkapi tidur yang kurang pada malam harinya karena lembur, mempersiapkan materi presentasi, atau bisa juga menulis blog seperti saat ini. :D

Parahnya lagi, saya pernah berniat untuk tidak punya HP. Saat orang lain sedang asik-asiknya upgrade model HP yang seperti tidak pernah berhenti mengeluarkan produk baru, saya tinggal menggunakan jasa ajudan atau sekretaris pribadi untuk menerima setiap panggilan yang ditujukan untuk saya. Syukur-syukur lagi kalau saya tidak perlu repot-repot mengisi pulsanya. :p

Belum lagi saya pernah terpikir untuk membuat alat sensor kata pada alat-alat yang berhubungan langsung dengan saya. Seperti komputer atau laptop, saya tak perlu repot-repot mengetik, tinggal bicara, otomatis sensor tersebut akan menyalinnya dalam sebuat tulisan. Atau dengan pintu rumah, cukup dengan mengucapkan kalimat tertentu, pintu itu otomatis terbuka. Dan lain-lainnya. (hebat bukan???)

Ada yang bilang saya bermental pejabat. Tidak juga. Karena saya lebih suka bekerja di lapangan ketimbang berlama-lama di kantor. Tapi, kecenderungan saya. Saya lebih suka mengajar. Entah mengapa, mengajar bagi saya membawa semacam sensasi yang berbeda. Apalagi ketika bisa berdiri di hadapan ribuan mahasiswa hebat, mengajarkan mereka bagaimana merubah 1 + 1 bukan menjadi dua. :D (teorinya masih dalam proses dipikirkan).

Itulah saya, bukan tak mau ribet. Tapi kalau ada sesuatu yang bisa dipermudah, kenapa harus dipersusah. Semuanya sudah ada jalannya ;)


23 Dec 2010

Ayahku suka Lagu Jadul = Ayahku Jadul???


Kalau boleh bercerita sedikit, dulu waktu saya masih imut sekali. Saya sering sakit-sakitan. Entah kenapa, setiap umur saya bertambah satu, setiap itu pula saya harus rela berbaring lemah. Kadang kalau tidak beruntung, saya harus rela menghabiskan waktu minimal lima hari opname di rumah sakit. Bertemankan infus dan nasi bubur khas rumah sakit yang pahit.

Waktu itu selepas saya naik ke kelas empat SD bertepatan dengan rencana renovasi rumah, saya sedang aktif-aktifnya di sekolah. Anda tentu tahu sendiri bagaimana anak-anak di sekolahnya, tentunya jajan tidak teratur. Begitupula saya. Ada satu minuman favorit saya sewaktu di sekolah dulu, minuman bersoda buatan pabrik rumahan. Dan minuman itu pula lah yang membuat saya akhirnya sakit. Pikiran orangtua saya terbagi, antara rumah yang direnovasi dan anak yang harus direnovasi juga kesehatannya alias sakit.

Penyakit saya terbilang cukup aneh, sampai sekarang saya sendiri masih tidak tahu apa nama penyakit saya dulu. Syukurnya, penyakit itu adalah penyakit terakhir yang mengharuskan saya opname di rumah sakit. Karena setelahnya, saya hanya "berkunjung" ke rumah sakit untuk periksa kesehatan.

Ciri-cirinya leher saya bengkak, tak bisa digerakkan. Dan kalau saya duduk, kepala saya terasa pusing sekali. Makan pun tak selera. Sampai-sampai selang harus masuk lewat hidung saya untuk mengantarkan makanan pada lambung.

Nah, sampai di sini anda pasti bertanya-tanya apa hubungannya tulisan ini dengan judul di atas?

Begini, sewaktu saya sedang drop-dropnya di rumah sakit. Abah dan mama saya kadang bergantian menemani saya. Biasanya abah dapat giliran pagi, dan mama dapat giliran malam. Pada suatu hari, abah saya datang membawakan sebuah organ mini murahan. Sebagai oleh-oleh hiburan di kala saya sakit. Hati saya girang. Walau badan lemah, tapi semangat saya kembali berkobar melihat organ mini tersebut. Abah tahu, kalau saya suka musik. Begitupula beliau.

Beliau dulu pernah bercerita, sewaktu beliau masih di kampung dan mondok di pesantren. Beliau sering kabur untuk menonton orkes melayu keliling. Orkes yang digawangi seorang juragan berkumis tipis, berbaju rapi dengan rambut yang licin selicin lantai dilumuri oli. Beberapa orang musikus dengan alat masing-masing. Ada akordion, organ, gitar, bass dan ketipung. Juga tiga orang biduan biduanita. Seorang biduan berpakaian safari, bersepatu pantopel coklat mengkilap, rambut bak Elvis Presley dengan jambul menggelambung di ujung kepala juga kumis tak kalah rapi dari juragan. Dua biduanita berpakaian melayu panjang dan sopan, serta dandanan seadanya. Jauh dari kata norak.

Entah bagaimana detailnya, abah saya yang katanya bagus mengaji tiba-tiba terpilih sebagai penyanyi lagu orkes keliling. Mungkin tim pencarian bakat waktu itu tidak secanggih sekarang, mereka melakukan scouting secara manual. Akhirnya abah dikontrak. :D

Di orkes melayu tersebut abah diplot menyanyikan lagu-lagu melayu zaman dahulu. Berbagai macam lagu beliau nyanyikan, terlebih beliau sangat mengidolakan Puteh Ramlee sebagai seorang biduan melayu yang terkenal zaman itu.

"Suaranya, nak... Macam gumpalan sutra terhembus angin. Tebal mengalun, tapi merdu", abah bercerita.

Banyak lagu P. Ramlee yang ayah nyanyikan, mulai dari Anakku Sazali, Azizah, Bulan Mengambang, sampai Engkau Laksana Bulan. Beliau hafal betul tiap-tiap not-nya. Walaupun beliau akhirnya secara dramatis harus memilih kembali sekolah di pesantren ketimbang meneruskan "karir" di dunia tarik suara.

Walhasil, saya begitu terhibur di rumah sakit. Punya motivasi untuk sembuh dan pulang ke rumah sambil memeluk organ mini yang jadi kesayangan saya. Saya baru sadar, ternyata walau penampilan abah yang perlente dan modis, beliau juga menyukai lagu-lagu lama. Bersahaja sekali beliau tatkala mengajarkan saya beberapa lagu yang sekarang masih saya hafal nadanya.

Sekarang, abah tak lagi muda. Umur beliau sudah 73 tahun. Rentan sakit-sakitan, dengan beberapa penyakit yang beliau idap di masa tua-nya. Penyakit hidup enak kata orang.

Tiap kali saya rindu abah saya, selalu saja saya putarkan beberapa lagu tersebut. Niatnya mengobati kerinduan pada abah. Semoga abah tetap diberikan kesehatan dan rezeki yang banyak. Tunggu anakmu pulang, bah. Bawa istri. :D Hehehe...


Kalau ada yang mau mendengarkan lagu P. Ramlee, silakan buffer di sini.

22 Dec 2010

Oh, Jangan.

Judul di atas cukup ambigu, bukan? Maka dari itu, lanjutkan membaca ;)

Saya tak bisa membayangkan kalau seandainya posisi saya sebagai Andrej Pejic. Walaupun bergelimang harta dan banyak penggemar, saya lebih memilih sebagai diri saya sendiri. Bukan berarti saya "muna" tapi karena saya tidak siap saja menghadapi sedemikian banyak penggemar wanita maupun pria. :D
Andrej Pejic adalah salah seorang model asal Serbia berusia 19 tahun. Sekarang dia berdomisili di Australia. Model dengan rambut lurus berwarna pirang sepundak, rahang yang lembut, bibir yang ranum, hidung mancung kecil dan "cantik". Hingga memunculkan istilah baru, femiman atau feminime man. Dari casingnya yang menawan tersebut, tak menyangka bahwa dia adalah seorang pria tulen.

Model yang kini dikontrak oleh Marc by Marc Jobs dan rumah mode Jean Paul Gaultier ini sejujurnya bukanlah seorang waria. Dia tidak pula berkeinginan mengganti gendernya menjadi wanita, tapi jelas, dia sangat menikmati keadaannya sekarang.

Bila saja saya disodorkan untuk menggantikan perannya di dunia ini, saya akan menolak dengan halus (emang ada yang mau nawarin?). Tentunya dengan berbagai pertimbangan.

Pertama, saya harus mempersiapkan diri saya secara materi untuk bisa mengikuti terus perkembangan mode. Termasuk mengikuti cara berbusana yang asing, terlebih-lebih mengikuti gaya berbusana wanita.

Selain itu, mempersiapkan diri untuk selalu terlihat lebih "cantik" dengan menjalani perawatan kosmetik yang berbelit-belit dan menyiksa. Mulai dari perawatan rambut, wajah, kulit, kuku hingga mengkonsumsi vitamin anti jerawat secara rutin (secara saya hidup jauh dari keteraturan ;p).

Kedua, saya juga harus mempersiapkan mental saya menghadapi para wanita. Baik itu rekan sesama model maupun penggemar saya yang histeris tatkala saya melambaikan tangan kepada mereka (tak lupa dengan sedikit dramatisir slowmotion). Harus siap cipika-cipiki tatkala bertemu, juga dengan gurauan renyah (baca: garing) sarat dengan motif saling memuji dan mengidamkan kecantikan satu sama lain.
Atau mempersiapkan mental menghadapi para pria hidung belang yang mengira saya wanita. Dan saya tidak bisa berkomentar banyak tentang hal ini. (-_-")

Maka dari itu, kesimpulannya adalah saya tidak siap menjalani kehidupan sebagai seorang femiman. Pesan saya buat saudara saya Andrej Pejic, sabar-sabarlah menjalani hidup ini. Hal ini pasti tidak berjalan lama, setelah kamu sedikit keriput, sudahilah karirmu. Hiduplah dengan apa yang sudah kamu tabung sekarang, jalani hidupmu dengan bahagia. (bijak bukan?)

*sebagai tambahan: menurut Urban Dictionary, istilah Femiman mempunyai arti: Noun: A man that has a full feminine figure, atau Femimen : Feminine-men. They're like regular man, just a little feminine.

Mengungkap Hal yang Tabu


Apa hal tabu yang akan saya ungkap? Tertarik kan? Kalo tertarik, lanjutkan baca. Kalo tidak, ya tekan F5 saja.
Mengapa post kali ini saya namai Mengungkap Hal yang Tabu? Bukan karena isi postingan ini menguak hal-hal seronok. Tapi karena di sini saya menuliskan sedikit pandangan saya tentang "alay", "lebay", "geje dweeeeh" dan sebagainya. (hufh! berat hati menulis ini).

Heran saya, mengapa tiap hari makin ada saja istilah-istilah baru dalam dunia perbahasaan ini. Mulai dari istilah "alay" yang sekarang sedang naik daun, diiringi oleh istilah "lebay", "prikitiw", "gajebo" dan lain sebagainya yang tidak bisa saya tulis satu-satu.

Pertumbuhan pesat istilah ini berkembang juga dengan style yang dibawakan oleh anak-anak bangsa ini. Mulai dari tren rambut, pakaian hingga gaya berbicara dalam tulisan maupun lisan.

Jujur, saya terkaget-kaget ketika pulang ke tanah air dan menemukan fenomena-fenomena ini. Dulu, terakhir saya menginjakkan kaki di Indonesia (tahun 2007 akhir) yang dulu masih kental sekali dengan tren-tren jaket dan celana kargo, model rambut mohawk dan gaya bicara yang loe-gue layaknya dalam film Realita, Cinta dan Rock'n Roll yang diperankan oleh Vino G. Bastian.

Sekarang, sudah banyak pabrik instan yang menghasilkan anak-anak muda yang "gaul". Bagi para perempuan, mampir ke salon kini bukan hanya sebulan sekali. Malah ada yang seminggu main ke salon sampai tiga kali (wedew, mungkin kerja di sana kali...). Potongan rambut poni berebonding, ke pasar pake pakaian tidur ( saya melihat dengan mata kepala ada perempuan ke pasar cuma pake hot pants jeans sama tanktop), dan hape di tangan yang tak lepas dari pandangan mata (siapa tau ada yang komen status guee..katanya).

Bagi para lelaki, potongan rambut emo, mohawk, rebonding layaknya bintang-bintang korea yang sekarang lagi jadi tren. Petantang-petenteng membawa hape BB (belibekas) sambil sesekali membenarkan celana pensil yang sepantat (hoalah...).

Saya kadang heran, mungkin inikah perkembangan teknologi yang merupakan buah dari perkembangan zaman? Atau cuma produk gagal dari perkembangan tersebut. Tapi untunglah, tidak semuanya suka dengan hal itu. Tidak pula dengan saya.

Prihatin, tapi apa daya. Hal ini seperti sudah mendarah daging. Pemuda-pemudi lebih suka terkena virus hidup konsumtif cenderung hedonis daripada hidup bergelut dengan buku dan aktifitas pengembangan potensi diri (FBan, Chatting-an, blogging, ngaskus !)

Kini, setelah menyadari kalau hal itu sudah semakin larut. Tak ada cara lain selain memikirkan solusi yang tepat dan pas pada sasaran. Tidak berkesan menggurui (karena remaja dan anak muda paling tidak suka digurui), tidak memaksa (ogah dipaksa) dan tidak mengekang kehendak mereka. Salah satu solusi yang saya tawarkan adalah: Gapapa hidup seperti itu. Tapi harus diimbangi dengan pengembangan dan penggalian kualitas diri. (betul tidak?) Agar kita bisa mengisi celah-celah regenerasi yang nantinya akan ditinggalkan para sepuh-sepuh yang sudah tua.


Daripada Bengong


Kendala terbesar saya saat ini adalah kembali memulai menulis setelah "rutin" meninggalkan aktifitas ini. Berselang satu tahun setelah vakum total dari dunia maya, kali ini saya ingin kembali berbagi. Tapi, benar kata para senior dulu waktu saya masih aktif mengikuti kegiatan tulis menulis. Mereka berujar bahwa semakin lama tidak mengasah tulisan, semakin sulit untuk memulai kembali. Dan itulah yang kini terjadi dalam diri saya.

Alasannya banyak. Dari bingung harus memulai dari mana, memilah-milah tulisan apa yang akan disajikan, judul apa yang menarik, sampai betul-betul kehilangan kepekaan membaca situasi yang katanya adalah senjata para penulis.

Kini, keingingan menulis itu muncul lagi. Dan anehnya, selalu saja di saat-saat ujian yang membutuhkan waktu lebih intensif. Tapi kali ini, anggap saja sebagai pengisi kekosongan daripada saya bengong.

Dulu, saya terbiasa menulis fiksi total. Kenapa saya menggunakan kata total? Karena memang yang saya tulis tidak ada sama sekali dalam kehidupan nyata ini. Semua murni khayalan. Dan itu membutuhkan kepekaan perasaan untuk bisa meresapi, memendam hingga menuliskannya (ceilee..) kembali.

Walhasil, setelah "curhat" kepada temen-temen yang masih eksis menulis. Saya mengumpulkan sedikit demi sedikit apa yang dulu pernah tercecer. Tapi terus terang! Kali ini beda. Berbeda saja. Dan itu saya saja yang merasa.



Perbedaan yang paling mencolok adalah ketika saya membuka kembali laman kepenulisan yang dulu saya pernah eksis di sana. Saya senang sekali, menemukan akun saya yang "ternyata" masih ada di sana menyimpan arsip-arsip tulisan saya dengan rapi. Juga ada beberapa komentar menarik sewaktu saya masih berguru dulu. Berkas itu akan selalu saya simpan.

Sekarang, insya Allah sampai nanti. Saya akan mencoba kembali meramu dan membumbui hidangan. Doakan saja. Dan jangan lupa, terus tegur. Terus kontrol. Karena itu yang saya butuhkan untuk bisa bangkit kembali.

20 Jun 2010

Jurnal Ujian Musim Panas.





Baru kali ini aku merasakan beratnya kepala untuk bangun di saat-saat ujian. Entah karena kelelahan atau karena memang stress oleh ujian yang lumayan menguras pikiran, waktu dan tenaga. Boleh dibilang ini adalah ujian keenamku untuk tiga tahun domisiliku di Negeri Kinanah ini.

Al-Azhar dengan segala kebesarannya sudah menanamkan rasa cinta ilmu dan haus akan pengetahuan kepada para mahasiswanya. Terutama bagi diriku yang semakin hari merasa semakin bodoh. Aku tak bisa membayangkan bagaimana nanti aku pulang ke tanah air tanpa membawa bekal yang cukup untuk bisa hidup dengan masyarakat.

Pagi hari ini aku bangun tepat setelah muadzin melafalkan "hayya 'alal falah". Masih dengan mata yang berat, aku paksakan diri menuju kamar mandi untuk mengambil wudlu. Disertai langkah yang berat dan mata yang berkantung aku wudlu. Setelah wudlu mampir sebentar ke dapur, kerongkongan terasa kering karena semalaman penuh aku tak sadar keringat keluar deras. Maklum, musim panas. Solusinya adalah menyiapkan air tepat di samping tempat tidur.

Cukup 3 gelas aku minum, lalu shalat shubuh. Insya Allah, khusyu' :D

Iya, hari ini adalah ujian ke delapanku dalam dua belas mata pelajaran yang diujikan selama satu bulan lebih. Jangan heran, kami di Al-Azhar biasa ujian dalam durasi selama sebulan hanya berselang dua tiga hari bagi yang beruntung. Bagiku, mendapatkan "ujian Daud" yang diselang satu hari merupakan latihan otak penuh.

Di saat para bintang sepak bola dikuras tenaga mereka di Afrika Selatan. Kami di Afrika Utara ini dikuras otaknya. Berbagai macam keunikan bisa dilihat di sini. Ada yang asik komat-kamit sendiri. Ada juga yang melamun, tapi begitu disentil sedikit latahnya yang keluar malah pelajaran. Hehehe...
Pada hari ujian ini, aku diuji mata pelajaran Tauhid. Kata kakak-kakak kelas yang berada satu tingkat di atasku, pelajaran Tauhid adalah pelajaran pokok jurusan yang lumayan sulit. Mengapa sulit? Karena diktat yang dijadikan sumber adalah buku Syarhul Mawaqif karya as-Sheikh as-Sharif al-Jurjani. Adapun buku Mawaqif itu sendiri adalah karangan Ulama Ahlu Sunnah yang terkenal, 'Adhdudiin al-Iyjiy.

Bagi teman-teman pembaca yang belum tahu apa saja yang dibahas dalam ilmu Tauhid, ilmu Tauhid adalah salah satu cabang ilmu dasar penting yang diajarkan di Fakultas Ushuluddin terlebih di jurusan Aqidah Filsafat. Isi pembahasannya pun seperti mengutip beberapa ungkapan di buku adalah Pelajaran yang Paling Mulia karena pembahasannya bersangkutan langsung kepada yang Maha Mulia. Jadi, dalam ilmu tauhid kita diajarkan asas-asas ketuhanan yang benar.

Nah, berhubung kali ini yang dibahas adalah Mawaqif. Buku ini adalah buku Ahlu Sunnah Wal Jama'ah yang berwarna ilmu Kalam Filosofis. Buku ini sendiri ditulis setelah Imam Al-Ghazali mengkritik para filosof Islam saat itu. Jadi, buku ini hadir sebagai penengah. Tidak terlalu mengacu kepada filsafat, tapi bisa menjelaskan haqiqat ketuhanan dalam bahasa mantiq/logika yang dipakai di ilmu Filsafat.

Salah satu isinya adalah dalam bab Itsbatu as-Saani' atau Tetapnya Wujud Sang Pencipta. Di dalam buku ini dihadirkan berbagai dalil baik itu dari ulama ilmu Kalam, Hukama atau Filsuf, Ulama Kontemporer sampai menurut penulis buku tersebut sendiri yaitu al-Iyjiy.

Dalam syarahnya, al-Jurjani menguraikan dalil menurut ulama Ilmu Kalam atau Mutakallimin berdasarkan premis mayor, minor dan konklusi. Mereka berdalil tentang Esensi dan Tampilan luar dari Esensi tersebut. Contohnya, setiap Esensi dan tampilannya semuanya bisa diperbaharui. (Pmayor) Semua yang bisa diperbaharui berarti dia butuh Dzat yang memperbaharuinya karena dia tidak bisa memperbaharui dirinya sendiri (Pminor) Maka, semua esensi dan tampilannya membutuhkan Dzat yang bisa memperbaharuinya atau menciptakannya (konklusi).

Perlu diketahui, esensi dan tampilannya disini termasuk manusia, hewan dan semua yang diciptakan dan tak mungkin ada dengan sendirinya.

Demikian sedikit bocoran pelajaran Tauhid di Azhar. Kumohon doa dari teman-teman pembaca agar apa yang saya usahakan bisa maksimal dan mendapatkan hasil yang memuaskan, bermanfaat nantinya. Amien.



17 Jun 2010

ma Kairo 2


Eksploitasi tanpa batas. Aku menamai postinganku kali ini. Ya, kesan pertama bagi awam kita ketika mendengarkan kata Mesir adalah gurun, panas dan onta. Tak sepenuhnya salah memang, tidak pula bisa dibenarkan semuanya. Kairo memang bergurun, panas udaranya kalau sedang musim panas, dan terdapat onta gurun (walau saya cuma melihat sekali, itupun di kebun binatangnya Kairo). Seolah keindahan ini tertutupi oleh 3 macam tashawwur itu.

Tapi, jangan salah. Kairo selalu bisa saja menyimpan kecantikannya walaupun kita habis-habisan mengubernya sampai ke pelosok perumahan di Dowaiqa (City of the Death) atau kawasan elit di New Cairo Heliopolis. Takkan habis cantikmu, Kairoku...

Berikut beberapa bukti yang tertangkap oleh kamera saya. Semoga bisa dinikmati. Amien. :)




Pemandangan dari Azhar Park


Depan Masyikha Azhar (deket City of the Death)

Nilometer

Azhar street

City of the Death

toko jam di Moiz lidinillah st.

Nilo bridge


Azhar Park


Bunga dari taman bunga deket Istana Abidin



Amr bin Ash mosque

St. George Statue


10 Jun 2010

Deep Under Syai


Dari gambar sisa-sisa teh di atas. Begitu pekat isi teh tersebut. Tak bisa kita mengira berapa bulir teh yang masuk dalam gelas tersebut yang tak berimbang dengan jumlah air. Sehingga apa yang tampak didepan kita hanya kepekatan. Mungkin yang terbayang dibenak kita adalah rasa pahit atau asam teh basi, hasil dari apa yang pernah kita rasakan apabila kita menemukan kasus yang sama pada teh-teh lain.

Kalau kita mencoba meminumnya langsung dari bibir gelas itu. Sudah pasti yang terjadi adalah pergerakan air yang mengikuti kemana permukaan yang lebih rendah. Begitu pula dengan isi teh tersebut. Selain air yang masuk, mungkin ampas teh tersebut juga akan ikut masuk ke dalam mulut kita.

Di sini dibutuhkan sebatang sedotan yang jernih dan bersih. Untuk membantu kita menghabiskan air teh tanpa harus mengisap juga ampas teh tersebut. Dalam mengisapnya juga, kita perlu menggunakan cara khusus agar ampas tersebut tidak ikut terhisap dan kita bebas dari ancaman tersedak.

Itulah gambaran sisa teh pekat yang ada dihadapan kita. Kalau bisa dianalogikan (secara jauh sekali :P) hal ini sama dengan media yang kita konsumsi sekarang.

Tanpa harus menghakimi bahwa media yang ada sekarang dengan gambaran konotatif. Tapi di sini saya hanya akan mencoba melihat media informasi khususnya infotainment Indonesia lewat lubang sebuah sedotan kecil putih ini.

Infotainmet Indonesia pada akhir-akhir ini bisa diibaratkan seperti gambar segelas teh di atas. Airnya sedikit, seperti informasi yang bisa benar-benar kita manfaatkan. Atau yang bisa benar-benar sehat untuk kita konsumsi walau ada rasa asam dan pahit yang mengikutinya.
Dan ampas teh tersebut menggambarkan betapa sulitnya kita memilah dimana informasi yang benar-benar baik dan pantas untuk kita dapatkan, dan mana informasi yang tidak seharusnya kita dapatkan.

Dari ini, kita membutuhkan sebatang sedotan untuk membantu kita memilih informasi secara hati-hati dan aman agar kita tidak terjebak dalam pekatnya dan kerasnya dunia infotainment.

Banyak sekali sekarang kita lihat tayangan-tayangan hangat yang tidak segan-segan mengupas kehidupan pribadi dan beberapa hal yang sangat privat. Yang dibahas tidak kurang dari masalah rumah tangga, hubungan antar objek infotainment dengan lainnya, serta gosip-gosip seputar kehidupan objek tersebut.

Belum lagi kita kenyang dicokoki informasi di atas, santer sekali sekarang tayangan-tayangan reality show yang menggambarkan betapa keringnya hal-hal yang dianggap layak untuk di siarkan.

Kini yang bisa saya harapkan hanya semoga saja suatu saat akan muncul sebuah program yang bisa benar-benar sehat untuk kita konsumsi.

*dengan kerendahan hati. mohon dikoreksi.

22 Apr 2010

Kokoh, Tak Tergantikan


Picture Source click here


Watak orang-orang Mesir lebih mewakili mereka sebagai orang gurun ketimbang orang Arab. Dari beberapa buku dan sumber yang kutanyakan, konon orang Mesir asli sekarang lebih banyak berada pada garis selatan seperti di Al-Menia, Asyut, Aswan, Luxor dan perbatasan antara Mesir dan Sudan. Walau mereka yang ada sekarang adalah campuran berbagai macam ras, dari Turki, Perancis, Arab, Inggris tapi tetap saja mereka adalah keturunan Mamluk yang menguasai Mesir dari era Bahri el-Mamluk sampai Burji el-Mamluk.

Kalau mereka bicara, kupingku rasanya sakit. Suara mereka begitu keras dan nyaring. Cara mereka bicara pun terlalu ekspresif menurutku. Gaya tangan dan wajah mereka cenderung tak bisa diam. Berbeda dengan kita orang Indonesia, yang bahasa pun lembut sampai hampir tak terdengar. Harus penuh kesabaran memang kalau mau berurusan dengan orang Mesir. Tapi salah satu yang menarik dari mereka adalah mereka begitu komunikatif. Pernah suatu saat aku bertanya tentang arah menuju Masjid al-Hakim bi Amrilla di kawasan Babul Futuh kepada orang Mesir yang kebetulan berdiri di terminal Darrasah, orang itu lalu menjelaskan panjang lebar lebih dari informasi yang kuharapkan. Tapi, syukurlah aku malah mendapatkan informasi yang lebih dan baru.

Babul Futuh atau dalam terjemahan bebasku adalah gerbang pembuka bagi penaklukan-penaklukan atau penyelamatan berdiri begitu kokoh di hadapanku. Di sampingnya, Babul Nasr juga tampak megah. Kedua gerbang yang dibangun bersamaan pada tahun 1087 oleh Badr al-Jamali al-Juyushi ini seakan menjadi lambang betapa kuatnya pertahanan militer Islam di Mesir dulunya.


Dari orang Mesir yang kutanya tadi, gerbang ini dibangun oleh al-Juyushi untuk menahan serangan dari orang-orang Turki Seljuk Atsiz dan beberapa pasukan musuh yang datang dari Timur kota Kairo lama.

Kalau kuperhatikan, betapa kentara corak-corak zaman Fathimiyah melekat di kedua gerbang ini. Mulai dari tulisan syahadatain yang ditambah untuk Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat Rasulullah saw. Tampak pula di sana lengkungan pada bagian depan Babul Futuh yang merupakan ciri khas daulah yang pernah menguasai Mesir dan menyebarkan ajaran Syiah ini. Dari beberapa sumber yang kudapatkan dari paman Google, penggunaan lengkungan ini merupakan anomali dalam Fathimiyah Kairo. Dalam bentuk dan ukiran-ukiran yang ada dalam bangunan ini juga bisa kurasakan nuansa campuran antara Mesir dan Syiria. Sungguh sebuah mahakarya yang luarbiasa.

Bisa dilihat juga pada tingkat atas bangunan ini, nama-nama penjaga gerbang yang ditulis oleh Napoleon Bonaparte yang pernah menguasai daerah ini. Sebagai pengingat bahwa mereka adalah yang ditugasi untuk menjaga pintu ini. Sebagai salah satu buktinya bisa dilihat di Tour Courbin dan Tour Julien.

Betapa, begitu besar perhatian sebuah pemerintah kala itu kepada gerbang pertahanan mereka. Mulai dari fungsinya sebagai gerbang yang melindungi daerah juga sebagai lambang superioritas sebuah karya seni. Sungguh, kokoh dan tak tergantikan.

7 Apr 2010

Akhirnya...


Akhirnya, begitulah kutulis... :D
Setelah sekian lama tak mengudara, entah dapat angin dari mana hari ini aku bisa kembali ke ranah dunia maya.
Memang merindukan, rindu untuk bisa menulis sana-sini. Rindu untuk bisa terhubung kembali dengan teman-teman lawas yang lama tak bertemu di balik monitor.

Dan, pemirsa sekalian. Akan hadir kembali, Ipenk Project untuk kesekian kalinya dengan membawa keragaman tentang hidup, tawa, tangis, cinta dan apapun yang ada di sekitar kita.

Terimakasih buat perhatian teman-teman. :)

7 Jun 2009

setetes kebahagiaan, hilang, tunduk pada kesepian, diri ini melayang


pelan pelan aku menuliskan keindahan.
agar tak hilang dari keindahannya itu,
setetes kebahagiaan

tatkalah jatuh, hampa sudah
kantung kebijaksanaan
yang ada,
hilang

dalam sunyi yang luas,
bertekuk lutut aku
setengah menangis,
tunduk pada kesepian

salju tolong beri aku hujan
sampai ketika peluh datang,
diri ini telah melayang.

sumber gambar: http://abuthalhah.files.wordpress.com/2009/02/sendirian-di-laut.jpg